Minggu, 07 Maret 2010

Ngremble, Fishing To Eating


  1. Entah idenya muncul dari siapa, tiba-tiba saja ada yang mengajakku mancing.
  2. Banyak terpaksa nggak ikut, dengan alasan yang berbeda-beda: Arif nggak doyan makan ikan, Budi ngakunya males mandi habis Sabtu-Ceria bareng angkatan 2009, Hanif katanya ditinggal padahal mau ikut (waduh bukannya sudah ada yang nanyain "jadi ikut nggak?"
  3. Perjalanan diawali dengan si Hanin yang ban motornya bocor di garasi.
  4. Anak-anak bawah pulang ke rumah masing-masing dulu sebelum berangkat, dengan alasan yang aneh-aneh, kemudian kumpul di rumah Agung dan berangkat, tapi di persimpangan pertama, Bayu sudah salah jalan. Untung dia bukan penunjuk arah.

  5. Setelah melewati jalan yang naik turun dan penuh dengan pemandangan yang hijau dimana-mana, akhirnya sampa juga di Ngrembel Asri.

  6. Nyari tempat yang pw biar mancingnya berkesan. Tanpa tau yang ini kolam bawal, gurami, mujahir, lele, ataupun hiu, kami asal saja mencari tempat. Tempat no 30-31, wireless signal good (for what, we want to fishing, not go for browsing or chatting!).

  7. Pesen pancing, 4 saja sudah cukup lah, lagian yang namanya Hanin nggak pengen mancing, takut ketahuan nggak berbakat. Selidik punya selidik aku sedikit hoki dengan pancinganku dan juga tempat aku melempar kail. Pertama langsung dapat, lumayan gede lah, yang lain cuma dapat bayi-bayi ikan. Nisa juga sering dapet ikan. Lho, yang cowok-cowok apa nggak bisa mancing? Hmmm...
  8. Tararaaaaaaaa... Victor yang sedang melamun tiba-tiba bilang gini, "Ha, HRW?" Kita si nggak lantas percaya begitu saja. Tapi setelah kita amati sesosok wajah yang sedang berjalan bersama entah siapa, kita ketawa. Heran. Takdir. Dia awalnya belum melihat keberadaan kita, sampai akhirnya dia melewati kita-kita dan membalas sapaan kita sambil tertawa-tawa-seperti-biasa. Beliau pun melenggang bersama rombongannya, namun beberapa menit kemudian meluangkan waktunya untuk menanyakan apa yang kita lakukan disana. "Lho ini kok 7-2, tapi kalo malam ya 2-2 lah. Lah ini mancing buat dimakan atau pesen? Lo kok nggak dapat ikan? Nah itu to kalau ada saya langsung ada yang dapat ikan? Nanti ya kalau saya pergi ya pasti nggak ada yang dapat ikannya. Nah ini Ita, ini Victor, Yuda... " dan pokoknya masih banyak lagi kata-kata khasnya beliau. Aduh, semoga saja Pak Hari nggak menyinggung 'pertemuan' ini di kuliah Baja 2 nanti. Bisa mati. Apalagi kalau dari segi yang memalukan. Hey, kita wisata kuliner Pak, sesuai saran Bapak...
  9. HRW datang dengan jelasnya, dan tiba-tiba saja sudah menghilang entah kemana. Lewat mana dia pulang? Hmmm, hebat.
  10. Capek memancing, sementara yang dipancing nggak mau nyangkut kail padahal umpannya sudah dihabisin rame-rame di bawah air, akhirnya kita mutusin untuk langsung pesen aja. Bingung juga mau pesen yang 2 kilo1, 1 kilo 2, 1 kilo 3, atau satu kilo 4, untungnya si Nisa yang ngurusin sama Mbak-mbaknya. Jadinya beli 9 ekor, 2.4 kilo.

  11. Sambil nungguin pesenan datang (katanya 29 menit) kita maen poker. Yes, poker everywhere. Warisan! Warisan, warisan...

  12. Akhirnya datang juga. Saatnya makan... Aduh kok rasanya manis banget bakarannya? But, it's okey lah. Emm, ada insiden teko juga gara-gara si Yuda. Waduh, jadi kasihan Mas-masnya jadi disuruh ngepel.

  13. Mancing sudah, makan sudah, saatnya untuk itung-tungan hutang. Hutang sudah impas sana-sini, saatnya ngapaen lagi ya? Outbond? Okeee...

  14. Bingung juga milih mau ngapaen kayaknya aku nggak berminat membuat jantungku copot. Pikir sana-sini, akhirnya aku pilih naek AVP atau APV entahlah, sama flying fox (aduh aku belum pernah sumpah, aku takut jangan-jangan jantungku copot beneran ntar), si Nisa milih Bunge Trampolin atau apalah namanya, kalau aku wah aku nggak berani yang kayak gitu. Tubuhku nanti kalau diloncat-loncatin sebegitu tingginya bisa-bisa jantung ku mengalami displacement. Atau mencolot keluar lewat mulut. Oh no..

  15. Si Agung nantangin balapan pake apv. Tapi nggak maksimal soalnya yang warnanya biru suka mati-mati sendiri mesinnya. Pas ngeliat orang maen gituan si rasa-rasanya kok gampang ya, tapi kok kalau di coba sendiri kok kayak mau nabrak-nabrak pembatas terus, pokoknya susah lah. Ya mungkin kurang biasa juga. But, like this lah.

  16. Flying Fox. The hardest part for me. Mungkin lebih baik kutukarkan saja tiketku dengan uang lagi. Hmmm. Si Nisa berkesempatan pertama. Setelah peralatan siap, dia meluncur, menjerit-jerit, dan sampe hanya dalam hitungan detik saja. Wah, aku nggak siap. Wah, giliranku? Aku nggak siap. Oke, aku siap. Tunggu, tunggu, aku nggak siap. Semua tali-tali dikencengin, soalnya ukuranku harus yang paling kecil. Semua perlengkapan sudah siap, tapi aku belum. Hmm, mas aku nggak jadi saja apa ya. Tapi pengen tahu juga rasanya kayak apa. Oh ya mas, nunggu saya siap ya. Oke, sudah. Akhirnya aku memberanikan diri, meskipun batinku menjerit pilu minta dibatalkan saja. Tapi aku sudah terlanjur diudarakan. Kakiku sudah nggak menapak apa-apa lagi. Tanganku berpegangan erat pada tali. Pertama-tama rasanya enak, pelan-pelan, sampai mas-mas penjaganya melepaskan talinya dan ... Aku nggak bisa berkata-kata atau memikirkan apapun. Aku bahkan nggak bisa menjerit pada awalnya. Aku nggak tahu ekspresiku seperti apa, tapi aku takut banget sumpah. Rasanya sangat berbeda banget sama yang namanya repling. Itu asyik. Kalo yang ini, hmm, semakin lama semakin kencang dan aku sudah pasrah. Jantungku berdetak cepat, dan saat kecepatan full tiba-tiba saja seperti direm. Yup, I'm done.

  17. Akhirnya kita semua mondar-mandir sebentar dan pulang.

  18. Nggak kapok untuk mancing lagi, kapok flying fox.

Jumat, 05 Maret 2010

Rekap Kuliah Minggu Pertama Semester 6

Minggu pertama ini nggak ada kuliah yang kosong sama sekali. Bahkan semuanya cukup membuat nafasku sesak. Semua dosen memberikan tugas, dan nggak jarang tugasnya sedikit aneh. Oh ya, kubicarakan satu persatu.

Pertama adalah mata kuliah Manajemen Konstruksi. Pak Agung langsung memberikan tugas mencari gambar kerja untuk dianalisis di pertemuan berikutnya. Takdirku di kelompok 1, tugasnya adalah gambar gedung. Okey, ada Henro, mungkin dia yang akan bersedia menyediakan gambarnya. Mungkin aku juga akan mencari gambar gedung, tapi itu masih mungkin mengingat besok aku akan mengikuti kegiatan bersenang-senang di Sabtu ceria bersama anak-anak 2009 dan juga akan pergi ke pemancingan bersama anak-anak Matoga.

Masih dihari yang sama, disertai badai dan suara petir menggelegar, Bu Hary Budieny mengajarkan ilmu PSDA (Pengembangan Sumber Daya Air) walaupun masih dalam materi pendahuluan dan pengenalan. Namun dia juga sudah memberikan tugas. Tugasnya adalah presentasi kelompok. Entah bagaimana caranya aku sekelompok dengan Henro-yang-super-cerewet-untuk-masalah-tugas, Ayu-yang-super-polos-dan-baik-hati, Ai-yang-kadang-alay-dalam-mengutarakan-pendapat-dan-dia-patnerku-beberapa-kali, dan Aji-yang-jago-banget-sama-rubik. Semoga suatu saat nanti presentasinya lancar. Amin.

Kemudian ada juga yang namanya PJR (Perancangan Jalan Rel), katanya cukup mengerikan untuk tugas karena tugas harus selesai sebelum UTS. Dan kalau tidak maka nilai kita otomatis E meskipun nilai UTS dan UAS kita sempurna. Untuk tahun ini tugasnya adalah berkelompok, masing-masing 8 orang dan harus melakukan survey ke tempat-tempat yang ada jalan relnya, ya pokoknya ya survey lah... Bisa kubayangkan dari sekarang betapa panasnya...

Kemudian ada juga Lapangan Terbang. Aku seperti merasakan deja vu seperti saat aku kuliah RLL. Pak Wicak hoby sekali menyinggung masalah kematian dalam sudut yang berbeda. Sudut yang humoris. Menarik, oke. Tugasnya juga presentasi, namun ada perbedaannya. Jadi satu kelompok itu ada 8 orang atau sekitar itu lah. Materi presentasi dan juga urutan presentasi ditentukan oleh Pak Wicak. Namun, siapa berperan sebagai apa, apakah moderator, penyaji, notula, anggota, dsb, dtentukan dengan undian. Hmmm...

Kemudian ada juga TPK (Teknik Pelaksanaan Konstruksi). Tugasnya lumayan berat, namun digotong bersama-sama. Untuk tugas kelas, membuat maket abutment jembatan beton bertulang. Menurutku membuat maket tulangan dari kawat nggak semudah kelihatannya. Dan tugas ini harus dikumpulkan maksimal satu minggu sebelum UTS. Hmmm, so soon! Kemudian untuk tugas pribadi adalah presentasi. Ada 4 materi yaitu persiapan, pembesian, pengecoran, dan pasangan pondasi. Materi itu dipresentasikan pada pertemuan ke 3-6. Namun siapa yang menyajikan materi adalah diundi, seperti sistem doorprize. Dan tiap orang punya kesempatan maju berkali-kali, karena namanya ikut diundi lagi pada presentasi berikutnya. Hmmm... Semoga bukan aku orangnya. Dan harus survey juga untuk mendukung presentasi. Hmm, benar-benar menyita waktu. Jadi karena kita selalu berkesempatan maju kapanpun, dengan materi yang berbeda-beda sesuai materi kuliah pada hari itu, maka tiap mahasiswa harus menyiapkan mental tiap minggunya. dan nggak boleh bolos dan telat. Akan ada tugas tambahan, kata Pak Arif.

Lalu Pelabuhan. Tugasnya adalah membuat makalah atau paper atau sejenis itu, tentang pelabuhan. Namun nggak boleh ada yang sama. Mungkin copy-paste internet, edit edit, jadi lah...

Untuk mata kuliah selain itu belum memberikan Tugas Kecil maupun Tugas Besar. Kalau yang namanya presentasi dan makalah itu tugas kecil namanya. Yang namanya tugas besar ya tugas yang ada Surat Puasnya, dan diberi waktu satu semester untuk mengejar Surat Puas itu untuk syarat ujian.

Untuk Struktur Baja 2, pada kuliah pembukaan, Pak HRW membahas mengenai ujian Struktur Baja 1, dimana hampir semua mahasiswa membuat kekonyolan dalam membuat mengerjakan ujiannya. Iya, konyol banget. Apalagi punyaku. Sudah nulisnya pakai pensil, bajanya terlalu kecil (lebih kecil dari punya Harijan yang sudah dianggap Pak HRW konyol sekali), dan nggak ngerjain soal nomor 2. Aku seharusnya mendapat nilai D atau C min, namun ditolong beliau karena beliau mengingatku sebagai Ita-yang-dapat-SP-pertama-dan-image-rajin-lainnya. Untung aku dikasih nilai B. Alhamdulillah...

Lalu Mekanika Getaran & Gempa, cukup mengasyikkan belajar mengenai Pembebanan pada Struktur. Bu Yulita suaranya juga enak, nggak bikin ngantuk.

Kemudian ada juga Bangunan Tenaga Air, oleh sang profesor Yutata. Kuliah diisi dengan pendahuluan. Pak Prof banyak cerita mengenai dia, hidupnya, dll.

Dan yang paling membuatku ngantuk adalah Analisa Struktur 2. Sepertinya akan kurevisi dalam waktu dekat. Namun nilaiku kan masih D, kapan perbaikannya kalau nggak kuulang sekarang? Well kenapa aku kurang semangat disini, hari Kamis kemarin aku kuliah, dan nggak ada temenku yang angkatan 2007. Udah pengen kabur aja. Eh rombongan angkatan lama pada naik, diikuti Pak Himawan, jadi aku ikut-ikutan masuk kelas. Nela aku sms tapi masih dikantin. Aku pengen duduk depan tapi sudah penuh dengan anak-anak 2008. Dibelakang penuh denagn senior. Untung ada yang kosong dipojokan, duduk ma Mbak Ika atau siapalah namanya, trus sms Nela suruh cepet naik. Akhirnya dia naik juga pas pak Him ngabsenin satu-satu. Kuliahnya bikin aku ngantuk, seperti deja vu saja. Aku nggak bisa membayangkan bakal duduk disitu 3 jam lamanya. Untung baru 2 jam dia sudah keluar. Hmmm, seperti mendapat undian lotre saja! Revisi go...

Itulah sekilas mengenai minggu pertama kuliahku di semester 6. Semoga minggu depan lebih baik. Amin.

Minggu, 28 Februari 2010

New Chapter, New Hope

Libur panjang 40 hari lebih akhirnya kelar juga. Bukannya bersyukur, tapi bukan pula sedih. Well, besok itu hari pertama di semester 6. Kalau menyebut angka 6 rasanya membuatku panik. Aku sudah semester 6! Artinya aku semakin dekat ke apa yang disebut sebagai "angkatan tua". Tua bukan berarti pandai dan lebih berpengalaman. Tua disini berarti "nggak juga memakai toga." Oh my God.

Masih ada kesempatan lulus pada waktunya, asal kita mau berusaha. Mungkin grafik IP ku tiap semester selalu turun signifikan dan naik kecil sekali, namun disinilah tantangan semester 6. Sebuah impian bisa membuat perubahan.

Aku memulai satu hal kecil. Agenda! Yeah, mungkin aku akan bosan dalam waktu dua minggu kedepan, tapi apa salahnya aku mencobanya. Mencoba membuat agenda atau To-do-list atau apalah namanya. Seperti reminder fungsinya, jadi tiap hari kita tahu apa yang harus kita lakukan sebagai prioritas. Atau juga sebagai pengingat dateline atau deadline atau deathline atau apapun kamu menyebutnya. Otak kita dirancang untuk mudah lupa, jadi kenapa kita nggak memulai membuat agenda dan berkata selamat-tinggal-lupa!

Jangan jadikan semester-semester lalu sebagai mimpi buruk dan penjara bagi kita, semester lalu hanyalah apa yang kita dapatkan atas apa yang kita lakukan. Kalau itu buruk, itu adalah pelajaran agar kita lebih baik lagi ke depannya. Kalau sudah dicoba memperbaiki diri namun mash nihil hasilnya, mungkin kita perlu yang namanya merevolusi diri dan pikiran secara besar-besaran. Jangan takut untuk mencoba sesuatu yang baru dan lingkungan yang baru, selama dalam hal-hal yang positif.

Sesuatu yang diawali dengan niat yang baik dan disertai dengan kerja keras untuk mendapatkannya serta dikuatkan dengan doa, pasti nggak akan sia-sia. Let's try!

Senin, 22 Februari 2010

I'm A Sinner

Hari ini dikasih job aneh. Fero 'Ndandong' si kordoswal yang ngasih tugas itu ke aku... Lalu kenapa ke aku? Katanya karena aku yang pandai memalsu tandatangan anak-anak. Oh my God!

Jadi ceritanya begini. Semua orang pulang ke kampung halamannya masing-masing. Yang tersisa di Semarang hanyalah orang-orang asli Semarang dan orang-orang sok sibuk yang ada tugas organisasi atau ada kepentingan lain. Jarang sekali ada yang sengaja pulang ke Semarang untuk mengisi KRS. Bahkan mungkin ada yang sampai sekarang belum pernah mengisi KRS sendiri. Payah, mau jadi apa bangsa ini kalau setiap mahasiswanya adalah mahasiswa titip: titip KRS, titip absen, titip fotokopi, dan lain-lain.

Karena pada jauh dari Semarang makanya semuanya menitipkannya pada kordoswal (terutama untuk 2171). Tapi semester ini membuat semua orang bingung. Kurang banget koordinasi dari penitip KRS dan yang dititipi. Hey, kamu yang tahu tentang apa-apa yang ada hubungannya dengan mata kuliah yang sudah kamu ambil, yang belum kamu ambil, yang mau kamu ambil, maupun yang sudah pernah kamu ambil dan nggak puas akan nilainya. Kenapa harus yang disini yang ikut pusing memikirkan bagaimana jadwalmu berbentrokan dengan jadwalmu yang lain, atau apakah jadwalmu cukup banyak diminati teman-temanmu yang lain.

Terlepas dari semua hal mengenai bagaiman KRS mu diisi, yang lebih penting lagi adalah tandatanganmu. Hey, kamu kan nggak ada, lalu siapa yang mengisi tandatanganmu?

Ndandong mengirimiku berbendel-bendel kertas baik manual taupun online yang harus kutandatangani--atau lebih tepatnya harus kutandatangani dengan tandatangan orang lain. Wah aku berdosa sekali melakukan pekerjaan kotor ini. Bingung juga meniru tandatangan orang-orang yang aneh-aneh. Ada yang tandatangannya kayak anak TK, ada yang ada lambang paranadanya, ada yang penuh garis diagonal, ada yang bertumpuk-tumpuk, ada yang seperti benang kusut, ada yang girlie seolah-olah pemiliknya akan dianggap gaul kalau tandatangannya segaul itu. Semuanya kulakukan dengan ikhlas, kalau ada yang nggak suka hasilnya, silahkan print sendiri KRS mu dan tandatangani sendiri. Oke, aku nggak suka pekerjaan kotor itu, tapi demi membantu saudara satu doswal ya nggak apa-apalah. Itung-itung beramal.

Bagiku melakukan itu semua seperti menggambar, menggambar garis-garis atau lengkung-lengkung. Sedikit mengasyikkan tapi membuatku gemetaran, karena hasilnya nggak pernah seperti aslinya. Karena tiap orang punya penekanan dan ciri khas sendiri dalam memakai alat tulis. Oh ya, tadi aku sempat salah menempatkan tandatangan(ku) di KRS manual salah seorang temanku. Aku malah tandatangan di tempat Pak Sri harusnya tandatangan. Oh tidak! Segera ku tip ex seolah-olah nggak terjadi apa-apa.

Semoga anak-anak mulai menyadari pentingnya arti tandatangan itu sendiri. Tandatangan itu bukan sekedar coretan untaian namamu. Lebih dari itu, itu adalah tentang kepedulianmu akan dirimu, tentang kepedulianmu terhadap orang lain, dan juga bahkan tentang sesuatu hal yang hubungannya dengan orang banyak--apabila kamu sudah menjadi orang nantinya.

Waiting List

Disini, di komputerisasi (samping dosenat jurusan teknik sipil) ribuan mahasiswa membanjir. Beberapa berkelompok di depan komputer yang jumlahnya terbatas, beberapa di depan loket dan membuat bu Anik pusing dan sumpek, beberapa di bawah pohon dan membuat suara berisik, beberapa di tempat duduk-tempat duduk panjang dan pusing mengisi KRS masing-masing (mengisi KRS sendiri saja sudah membuat pusing apalagi mengisi KRS orang lain!).

Dan di suatu pojok dekat kantin, aku dan teman-teman satu angkatanku sibuk membenahi KRS-KRS satu dosen wali (2171) dan mendapati seseorang bernama Hanintyo Hadiman belum mengisi KRSnya. Aku turut prihatin, ada teman kita yang sampai saat ini BELUM mengisi KRS nya. Oh My God, dia mau kuliah semester 6 nggak sich?

Ini adalah hari libur yang cukup padat, parkiran penuh, kantin penuh dan tentu saja komputerisasi menjadi tujuan utama bagi mahasiswa yang ingin mengisi KRS online nya. Atau ya sekedar mencetak KRS atau KHS nya, karena hanya disinilah satu-satunya tempat dimana kita bisa mendapatkannya.

Fero sang koordinator dosen wali 2171 sedang mensortir pas foto-pas foto untuk segera ditempel. Dia adalah seorang koordinator dosen wali paling loyal seangkatan, dia mau mengurusi KRS begitu banyak anak dan terutama meminta tandatangan sang dosen wali yang susah sekali ditemui. Semoga keloyalan dan kerajinannya akan terus terbawqa terus sampai nanti, sampai pada saat semester 6, karena dia adalah partner Struktur Baja 2 ku...

Keep this waiting day with joy and spirit...

Minggu, 21 Februari 2010

Never Tired Of Farming

Tahu Farmville kan? Ya, salah satu games yang dapat kita mainkan lewat situs jejaring sosial facebook ini, mulai masuk ke duniaku beberapa bulan yang lalu. Entah kapan tepatnya. Saat itu ada seseorang yang meng-invite ku sebagai tetangga. Namanya Hanintyo Hadiman, teman sekelasku di Sipil. Dia adalah satu-satunya temanku yang mempunyai sifat kelelawar, tidur disaat orang-orang beraktifitas, dan beraktifitas ketika orang-orang mulai tidur. Dia menghabiskan waktunya di depan PC dengan tangan memegangi joy stick. Dia selalu memanggilku "Bu Satpam" padahal sebenarnya yang satpam-online adalah dia.

Ketika mengkonfirm request-nya, aku nggak sengaja menekan tombol Accept padahal aku ingin menekan tombol Ignore. Dan tararaaa.... Aku masuk ke suatu kebun mini dengan dua petak tanaman strobery dan terong siap untuk dipanen. Lalu kupanen dan akhirnya uangku bertambah. Lalu kubajak tanahnya dan kutanami lagi. Lalu aku berkunjung ke perkebunan Hanin dan mendapati bahwa dia sudah mempunyai beberapa ekor sapi dan pohon-pohon unik. Aku jadi tertarik. Dan aku semakin tertarik ketika tahu bahwa Si Dunkdunk juga mulai main Farmville. Tetanggaku memang cuma dua pada awalnya. Setiap beberapa jam aku memanen kebunku. Pada saat itu uang 1000 sudah sangat besar artinya.

Setelah beberapa bulan akhirnya levelku terus naik, sekarang di level 34, sedikit diatas Dunkdunk, Andhyka, Hanin (dia pensiun!), dan Budi. Tahu nggak kenapa Hanin pensiun? Karena levelnya sudah disalip kita-kita. Hey, come on guys, you don't have to be a child now!

Sekarang uang 1000 sudah nggak ada artinya lagi, pendapatanku sudah merangkak ke level 1.000.000 dan selalu dihabiskan untuk membangun rumah-rumah atau fasilitas umum. Tapi titik terendahku sekarang kupatok dengan 100.000.

Lalu kenapa aku belum berhenti dari permainan ini sekarang? Ya, aku belum bosan, meskipun sedikit mengurangi jam-farmvillku. Banyak hal-hal yang terus di update di permainan ini, sehingga kita hampir selalu menemukan sesuatu yang baru. Kita juga dalam hidup bertetangga juga harus saling membantu, agar kedua belah pihak untung. Aku senang untuk berkunjung ke sawah orang lain; mengunjungi sawah-sawah menakjubkan yang setiap orang selalu berbeda; memberi pupuk tanaman orang lain dan nggak bisa memupuk tanaman kita sendiri; memberi makan ayam orang lain dan nggak bisa memberi makan ayam sendiri; menaburkan unwithered spray dan dengan menakjubkan tanaman orang lain yang sudah busuk menjadi segar kembali dan siap panen; memberikan kado untuk orang lain, baik itu pohon, hewan, koleksi maupun aksesoris; ataupun membangun rumah kuda dengan tetangga kta, dan lain-lain. dan ada juga yang menarik. Aku sering sekali me-refresh home page facebook-ku agar aku menjadi orang pertama yang mendapatkan hewan atau sesuatu yang lain. I like to clame everything, but I miss everything too because somebody does.

Bersosialisasi di farmville bukan saja tentang itu semua. Kita bahkan selalu membicarakannya di jam kuliah dan jam makan siang. Kelihatannya memang sesuatu yang sepele dan nggak ada asiknya, tapi menurutku permainan ini ada seninya. Ada pelajarannya. Pelajaran yang paling jelas adalah bahwa untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan adalah tidak secepat membalik telapak tangan, tapi ada langkah-langkah yang harus dilewati.

I love my Farmville. Viva Farmville!

Game Over. Play Again?


Itulah target yang pernah kubuat bersama Nela di awal semester 5. Sekarang semua hasil sudah keluar dan tararaaaaa..... Semua targetku gagal, hanya satu mungkin yang sesuai harapanku. Aku sering bertanya dalam hati, kenapa ya aku nggak pernah seperti apa yang kutargetkan? Atau memang targetku terlalu tinggi? Mungkin saja. Atau mungkin aku yang kurang berusaha dalam mencapai targetku itu? Mungkin juga.

Atau aku memang tidak menyadari kalau sebenarnya aku itu tidak sepintar yang aku kira. Tunggu, aku nggak bilang kalau aku pintar. Maksudku, kalau aku mengira kemampuanku itu sampai 9, ternyata aku cuma 5 sebenarnya. Hmmm, menyedihkan sekali ada orang yang tidak menyadari dirinya sendiri.

Kebanyakan targetku yang A mendapat B, dan yang B mendapat C. Hmmm, targetku terlalu muluk-muluk mungkin.

Tapi kalau aku tak membuat target apapun, tidak ada suatu perjuangan untuk mendapatkan 'sesuatu'. Semoga saja target-target yang gagal itu menjadikan pelajaran bagiku untuk semester 6. Aku tidak akan menurunkan targetku agar aku bisa mencapainya. Tapi lebih dari itu, bukan target yang akan kuturunkan tetapi kualitasku sebagai mahasiswa yang akan kunaikkan.




Sabtu, 20 Februari 2010

Tipe-tipe Mafiosa

Libur panjang akan segera berakhir dan Semester Genap akan segera datang. Semua nilai sudah dipublikasikan dan mungkin semua Mafiosa sudah tahu semua nasib IP dan IPK-nya. Mungkin juga ada yang belum tahu, tak menutup kemungkinan. Tapi keterlaluan sekali, sebagai teman aku ikut prihatin. Hey, kenapa kamu belum tahu nilaimu, kenapa? Apapun alasanmu, jangan pernah takut untuk melihat hasil kerja kerasmu di semester lalu, because it yours!

Tiap Mafiosa mempunyai cara sendiri-sendiri dalam menilai hasil IP mereka, dan apa yang mereka bicarakan tak selalu sama dengan apa yang mereka pikirkan. Aku sudah cukup lama berada di Sipil untuk menganalisis pikiran-pikiran dan tipe Mafiosa.

Tipe Mafiosa dari segi Perilaku dan Nilai:

1. Mafiosa tipe ini nggak bergabung dalam organisasi manapun, tidak diketahui dimana keberadaannya, susah dicari, punya nomor yang nggak bisa ditelpon, dan selalu dicari-cari dosen wali.

2. Mafiosa tipe ini nggak bergabung dalam organisasi manapun, nggak pernah bolos kuliah, selalu mengejakan tugas besar kapanpun dimanapun, aktif tanya jawab di kelas, selalu menghabiskan waktu di tiga tempat setiap harinya: kampus, kost dan warteg. Dan selalu mendaapt IP di atas 2,5.

3.Mafiosa tipe ini tidak begitu berbeda dengan tipe 2: nggak bergabung dalam organisasi manapun, nggak pernah bolos kuliah, selalu mengejakan tugas besar kapanpun dimanapun, aktif tanya jawab di kelas, selalu menghabiskan waktu di tiga tempat setiap harinya: kampus, kost dan warteg. Tetapi IP nya tak seberuntung tipe 2.

4. Mafiosa tipe ini sering bolos kuliah, namun pandai memilih apa yang mesti dipelajari ketika ujian, sehingga nilai ujiannya bagus dan tentu saja IP-nya bagus.

5. Mafiosa tipe ini tidak begitu pandai pada dasarnya, tetapi selalu mempersiapkan ujian dengan sebaik-baiknya, dengan selembar atau berlembar-lembar contekan sehingga nilainya selalu bagus.

6. Mafiosa tipe ini tidak terlalu pandai dan tidak berani membawa contekan ketika ujian, biasanya nilainya pas-pasan atau bahkan jelek.

7. Mafiosa tipe ini tidak pernah bolos kuliah, aktif di organisasi, aktif di kelas, tugas besar nggak pernah terseok-seok, kenal banyak senior, dikenal dosen-dosen, ketika ujian selalu khawatir nilainya jelek padahal dia sudah sangat mahir latihan soal, dan nilai yang dia dapat selalu bagus.

8. Mafiosa tipe ini selalu mengerti ketika kuliah, selalu menjadi tempat bertanya mafiosa yang lain, pandai bertanya dan menjawab Dosen, namun ketika ujian selalu gagal.

9. Mafiosa tipe ini nggak begitu menonjol ketika kuliah, bukan tempat bertanya, text book, dan IP nya selalu bagus.


Masih banyak tipe-tipe gabungan dari tipe-tipe diatas...
Who are you?

Jumat, 19 Februari 2010

Soft Skill dan Dunia Kerja

Bidang 1 HMS lagi punya kesibukan, yaitu menyelenggarakan kuliah tamu atau kuliah umum--entahlah apa namanya, aku sebagai panitia juga kurang mengerti. Kuliah tamu ini bertemakan Soft Skill dan Dunia Kerja, nantinya akan dihadiri oleh Ir. Adityawarman sebagai pembicara. Beliau adalah Direktur Teknik PT Jasa Marga. Selain beliau masih ada juga pembicara-pembicara keren lainnya. Siapa-siapanya aku kurang tahu, coba tanya Victor sang ketua panitianya, mungkin dia lebih tahu.

Panitia mulai mempersipkan segala tetek-mbengeknya, mulai dari pengadaan dana dan juga perlengkapan. Alhamdulillah, proposal permintaan dana diterima dengan baik dan semoga saja uangnya cukup. Semua berkas-berkas sudah mulai dipersiapkan dan insya Allah akan segera beres minggu ini juga.

Sebagai bendahara panitia, aku tadi hilir mudik kesana kemari untuk membuat SPj, dan untungnya selesai juga. Thanks ya Dunkdunk yang sudah membantuku...

Kuliah tamu ini akan diselenggarakan pertengahan Maret. Pendaftar sudah mulai membanjir, namun kuotanya terbatas. Ayo segera daftar, atau kalian akan menyesal. Kuliah Umum ini cuma setengah hari, GRATIS, dapat makan-minum, dapat sertifikat dan dapat bekal kerja pula...

Don't miss it!

Untuk keterangan lebih lengkap tentang pendaftaran, buka facebook Himpunan Mahasiswa Sipil Undip...

Senin, 25 Januari 2010

Tooth Extraction

Toothache is one of my big problem.

Well, bagi yang pernah sakit gigi pasti tahu sakitnya seperti apa. Linu saja sudah membuat kita nggak bisa ngapa-ngapain, apalagi sakit gigi bener-bener. Sampai nangis-nangis pasti. Bagi anak-anak yang masih bergigi susu, mungkin bukan masalah. Berlubang masih bisa bertransformasi menjadi baru kembali. Namun bagi orang-orang yang umurnya sudah kepala dua seperti aku pasti hal itu mengganggu banget.

Ayahku antusias banget pas aku bilang pengen cabut gigi. Oh, My God, aku memang pernah cabut gigi tapi itu dulu banget ketika gigi susuku mau tanggal. Waktu itu nggak begitu kerasa sakitnya, soalnya giginya emang dah mau tanggal.

Dan akhirnya aku diantar ayahku ke dokter Lucia Indarwati atau siapalah namanya, yang jelas aku pengen kabur saja membayangkan gigiku akan di "obeng". Membayangkan seseorang menyuntik gusiku saja sudah membuatku ngilu dan memegangi rahangku, padahal aku masih di ruang tunggu dan saat itu nggak ada tanda-tanda keberadaan sang dokter. Ayahku selalu menenangkanku dengan bilang, "nggak akan kerasa apa-apa."

Aku pura-pura tenang dengan membaca-baca majalah jadul yang disediakan di ruang tunggu, tapi pikiranku melayang jauh ke bagaimana nanti bu dokter menggoyang-goyang gigiku dengan obengnya dan mencabutnya tanpa ampun.

Ketika giliranku masuk, aku seperti menyesal datang ke tempat ini. Menyeramkan sekali. Lampu-lampu putih yang mencolok, tempat duduk yang setengah berbaring, seperangkat alat-alat dokter gigi, tempat berkumur, dan yang paling menyeramkan dari semuanya adalah seseorang dengan jas putihnya dan tatapan-tidak-apa-apa-nya.

Sedikit basa-basi nggak membuatku tenang. Tapi aku sudah pasrah, keluar dari sana membuatku terlihat bukan seperti seorang 21 tahun. Dokter Lucia menyuntikkan biusnya di gusiku, tanganku memegang erat pegangan kursi, aku tegang dan mulai mati rasa. Kenapa mati rasanya cuma di sekitar gigiku saja, kenapa nggak sekalian seluruh badanku biar aku nggak melihat proses pencabutan nanti. Oke, oke, beliau lebih tahu, dia kan dokter, dan aku hanyalah seorang mahasiswa yang sering sakit gigi.

Aku disuruh menunggu diluar sampai merasa benar-benar mati rasa. Hmmm, ini adalah suatu perasaan yang nggak enak sekali. Aneh sekali memegang pipimu, dan mendapati bahwa pipimu serasa bukan bagian dari dirimu. Benar-benar nggak mengenakkan sekali. Bagaimana kalau aku kabur sekarang?

Akhirnya aku dipanggil kembali. Dokter Lucia mengetesku apakah memang benar-benar sudah mati rasa. Tunggu dulu! Kenapa harus dibius? Pasti karena rasanya sakit sekali. Hiiiii... Memang sudah nggak terasa apa-apa, tapi tetap saja ngeri sekali melihat seseorang menusuk-nusukan jarumnya ke dalam gusimu. Dan akhirnya beliau memasukkan "obeng"nya dan mulai mengguncang gigiku. Dasyat! Aku berpegangan pada tangan beliau dan dimarahi. Maaf, refleks. Digoyang lagi. Hey, aku melihat gerakan tanganmu dan obengmu itu! Tidak, tidak, tidak...

Selesai. Hey, secepat itu? Darah keluar dan diganjal dengan kapas. Aku cukup mati rasa. Namun mungkin jerih payahku ada untungnya. Semoga nggak pernah sakit gigi lagi. Amien. Untuk satu menit berobat aku harus membayar Rp. 100.000,00. Good jobs, mom...

Selasa, 05 Januari 2010

Belajar MAB di Tengah Ujian

Anak-anak satu angkatan kemungkinan besar belajar Mass Haul Diagram semua, tapi yang keluar sungguh diluar perkiraan.

Tadi siang ujian Manajemen Alat Berat (MAB) dan kupikir soalnya adalah Mass Haul Diagram. Tapi ternyata Pak Eko Yuli tidak ingin para mahasiswanya mendapat nilai A. Jadi dia mengeluarkan soal yang sangat ribet menurutku.

Aku duduk di bangku nomor 3 tadi di C. 203 dan memulai semuanya dengan buruk. Awalnya kupikir aku membawa penggaris keramatku, namun ternyata penggarisku ketinggalan di bawah bantal. Aku berusaha untuk nggak panik, tapi tetap saja ujian kali ini harus punya penggaris, karena harus menggambar Grafik Free Haul-Over Haul dengan skalatis. Oh My God. Untungnya Ingrith Naibaho tadi mau meluangkan waktunya untuk keluar ruang ujian dan membeli penggaris sehingga aku nitip, maklum penggarisnya sudah nggak ada angkanya lagi.

Dengan PD-nya duduk, meletakkan semua fotokopian materi yang setumpuk, dan mulai menuliskan nama-nim-mata kuliah-semester-hari-tanggal-kode dosen wali-tanda tangan, dan menunggu pengawas membagi soal yang ukuran kertasnya A5, dan setelah ada di tanganku aku terdiam.

Apa ini? Hmmm.. sepertinya aku belum belajar yang seperti ini... Well, ya mungkin aku masih bisa tertolong dengan Open Book kali ini.

Aku dan semuanya mulai membuka-buka materi, memenuhi ruangan dengan suara kertas dibolak-balik, berharap menemukan jawaban dari angkatan atas yang sudah turun-temurun dalam fotokopian usang yang sudah difotokopi terus sampai sudah tak terlihat lagi tulisannya. Lambat laun suara kertas mulai menghilang. Sepertinya anak-anak sudah mulai menemukan apa yang mereka cari. Tunggu-tunggu-tunggu, aku masih belum tahu soal-yang-cuma-satu-itu-mau-diapain. Karena malu, takut ketahuan cuma aku yang masih membolak-balk materi, kuputuskan untuk membaliknya dengan sangat pelan sekali. Ya sebenarnya nggak perlu malu, toh nggak ada yang melihatku seperti itu, semuanya dalam kesibukan masing-masing.

[Sebelum kuselesaikan tulisan ini, kuharap nggak ada satu angkatanku yang membaca ini. Memalukan sekali.]

Well, aku seperti sedang belajar, bukan ujian tadi. Beberapa menit kemudian aku mulai sedikit mengerti tentang apa yang harus aku tulis. Dan kutulis saja apa yang menurutku tepat untuk menjawab solusi dari soal yang diberikan. Aku sampai takut lembar jawabku cuma terisi satu dua halaman saja.

Saat Pak Eko Yuli mengingatkan kami bahwa waktunya tinggal 5 menit, wow, aku terkesima dengan jawabanku. Aku belum menemukan berapa unit tiap peralatannya!

Kebanyakan anak-anak belum selesai mengerjakan soal tadi. Oh, benar-benar ujian Open Book yang gagal. Seperti biasanya.

Minggu, 03 Januari 2010

Tribute To Our Partners

1. Partner, hal pertama yang bisa kulakukan adalah bersyukur. Aku bersyukur karena sekarang ada kamu disini, berjalan bersamaku, mencapai sebuah tujuan bersama-sama... Sekarang aku tak takut lagi menghadapi siapapun, karena aku nggak sendirian..

2. Partner, sekarang tak ada lagi kata aku atau kamu, yang ada hanyalah "kita"..

3. Partner, ketika aku sakit dan nggak bisa memikirkan apapun tentang tugas dan asistensi, kamu datang dengan senyum yang membuatku tenang, lalu kamu bilang, "kamu (baca: namamu) istirahat dulu ya, tugasnya biar aku yang pegang dulu... kamu cepet sembuh ya"

4. Partner, ketika aku punya tugas lain yang berbenturan jadwal, kamu rela mengalah dan mendukungku menyelesaikan tugas-tugasku yang lain...

5. Partner, kamu rela mengantri jam setengah 6 pagi demi mendapatkan kesempatan maju Pak A yang pertama kali, meskipun aku masih tertidur lelap..

6. Partner, kamu rela membolos kuliah demi mengantri Pak A, padahal aku enak-enakan kuliah..

7. Partner, kamu rela meninggalkan makananmu saat kamu sedang makan siang dan kutelpon untuk segera maju Pak B..

8. Partner, kamu rela nggak tidur demi deadline, bahkan saat aku tertidur pun kamu masih begadang..

9. Partner, ketika kita maju dan pekerjaan kita salah, kamu nggak lantas menyalahkanku, meskipun aku tahu, kamu tahu, kita tahu, kalau itu mutlak kesalahanku..

10. Partner, ketika ditanya asisten, kamu nggak lantas membuat jawaban jujur yang memojokkanku.. yang bisa membuatku terlihat bodoh dan kurang berguna..

11. Partner, ketika aku down dan males nglanjutin tugas kita, kamu nggak lantas marah-marah.. tetapi kamu dengan segala kebijaksanaanmu memintaku untuk tenang dan istirahat beberapa hari dulu sampai aku tenang dan bersemangat nglanjutin tugas lagi...

12. Partner, ketika hujan deras disertai badai, kamu dengan tegarnya pergi ke kost teman kita yang berkilo-kilo meter hanya untuk menanyakan masalah seputar tugas kita yang belum beres... padahal aku berlindung di balik selimutku yang tebal...

13. Partner, kamu nggak pernah mengungkit-ungkit masalah fotokopi atau ngeprint ini-pake-uang-siapa-dulu-kalo-pake-duitku-cepet-balikin ya... tetapi kamu segera ingat tanpa kuingatkan kalau kita memakai duitku dulu...

14. Partner, kamu rela bolos kuliah bersamaku untuk mengejar deadline...

15. Partner, kamu tak pernah menyuruhku melakukan sesuatu kalau kamu sendiri bisa melakukannya sendiri.. kebanyakan orang selalu membuang-buang waktu dengan menyuruh-nyuruh orang lain, padahal dia nggak mau disuruh-suruh..

16. Partner, kamu selalu bisa membaca pikiranku, kapan aku males ngerjain tugas, kapan aku semangat... jadi kamu tahu banget kapan ngajak aku ngerjain tugas..

17. Partner, kamu selalu bilang "iya gak papa" saat aku nggak menepati kata-kataku sendiri tentang "batas ngerjain tugas harus sudah sampai sini"

18. Partner, kamu selalu bilang, "ya dilanjutin besok aja ga papah" saat aku sudah ngantuuk banget..

19. Partner, kamu selalu menganggapku sebagai seseorang yang penting, dan bukan hanya sebagai teman untuk maju asisten...

20. Partner, kamu nggak pernah menyalahkanku dengan bilang "ih KAMU gimana sih.. gara-gara KAMU tuh... piye sih.."

21. Partner, saat aku kangen banget keluarga, kamu mengijinkanku pulang barang beberapa hari untuk melepas rindu... dan nggak komentar, "enak aja pulang, selesein dulu tuh tugasmu"

22. Partner, saat aku merasa ini-sudah-mau-dateline/deadline-banget kamu menenangkanku dengan bilang "tenang, kita pasti dapat sp..." dan bukannya bilang "aduh gimana nih, seumur-umur baru sekarang nih aku belom dapat sp H-7 ujian, aduh habisnya kamu sih gini gitu gini gitu.."

23. Partner, untuk keterlambatanku kamu nggak pernah marah... thx ya...


terimakasih, atas semua hal kecil dan besar yang telah kamu lakukan demi kita...

tanpa kamu, aku bukan apa-apa.. meski adanya kamu aku juga masih bukan apa-apa...

tetapi tanpa kamu, aku nggak bisa asistensi sendiri, nggak bisa ngerjain tugas sendiri, dan lain-lain..

maafkan aku, atas semua keegoisanku, kata-kataku yang tak kusadari telah menyinggungmu, atas setiap tetes keringat yang sia-sia karenaku, atas setiap ketidakpedulianku, atas semuanya...

terimakasih...

partner, bangga sekali menyebutmu PARTNER-ku...

Final Exam I Have No Preparation


Tanggal 4 sudah ujian akhir. Aku bingung. Nyatanya aku belum mempersiapkan apapun kecuali satu hal: kartu ujian.

Ya Tuhan, jadwal ujian saja aku nggak punya, ujian sampai tanggal berapa juga aku nggak tahu. Aku merasa nggak berdaya sekarang, kenapa ya aku jadi begini... Harusnya aku itu nggak sebodoh sekarang. Mungkin aku nggak cocok berada di tempat ini.

Tapi toh aku nggak bisa memilih jalan lain juga karena aku sudah melangkah terlalu jauh sekarang. Aku nggak punya pilihan untuk kembali, yang bisa kulakukan hanyalah berjalan terus kedepan.

Aku harus terus berjalan, bagaimanapun pelannya. Aku hanya perlu untuk terus mempercepat langkahku perlahan-lahan sampai saat aku sadar dan menoleh ke belakang, aku sudah melangkah jauh. Dan saat aku menyadari, aku sudah tidak lagi berjalan pelan dan ragu, tapi aku sudah berlari...

Sahabatku pernah berkata bahwa belajar itu bukan tentang kecepatan, tapi tentang percepatan.

Mungkin ini adalah jalan yang salah menurutku, tapi aku nggak perlu berbelok arah dan mencari jalan lain, aku hanya perlu menelusuri jalan itu, karena kita nggak pernah tahu apa yang menanti kita di ujung sana.

Karena semua ini adalah bagian dari rencana Tuhan. Sebuah Master Plan. Kita hanyalah setitik kecil di dunia yang begitu besar ini.

Oke, aku harus mendapatkan nilai bagus untuk ujianku. Bukan agar orang lain menilaiku pandai, atau agar transkripku bebas dari nilai C, tapi lebih dari itu, karena itu adalah kewajiban dan tanggung jawabku karena telah mengambil semua pilihan itu.

Sabtu, 02 Januari 2010

Resolusi 2010

Setiap pergantian semester, pergantian umur, maupun pergantian tahun aku selalu menyempatkan diri untuk membuat suatu resolusi, yang pada kenyataannya jarang sekali terlaksana dan jarang sekali aku usahakan untuk terlaksana. Mungkin--lagi-lagi mungkin--sekarang inilah resolusiku bisa benar-benar kuusahakan untuk terwujud. Umurku sudah 21 tahun, saatnya untuk menjadi dewasa. Tiap manusia pasti bertambah tua, tapi belum tentu menjadi dewasa.

Di penghujung tahun 2009 ini aku ingin merekap kembali apa yang telah aku lakukan.

1. IP terus turun hingga ke tahap di bawah standart 2,25.
Sepertinya IP 2.1 bukanlah sesuatu hal yang bisa dibanggakan.

2. Boros. Nggak pernah berpegang pada prinsip "Belilah apa yang kau butuhkan, bukan apa yang kau inginkan".

3. Nggak merasa bersalah kalau terpaksa ataupun sengaja bolos kuliah. Sepertinya aku sangat menikmati saat-saat menghabiskan waktu di kamar bersama tv-ku yang sangat setia itu. Dia lah teman terbaikku karena dia nggak pernah marah saat semalaman menghiburku dengan acara-acaranya yang kurang berkualitas tapi menghibur, dan ternyata malahan kutinggal tidur.

4. Belum juga bisa masak, padahal itu bagian dari resolusiku beberapa waktu yang lalu. Payah.

Itu sebagian dari hal-hal konyol yang harusnya nggak perlu terjadi. Karena itulah dalam upaya pendewasaan diri, aku ingin sekali menuliskan harapan-harapanku di tahun 2010 dalam sebuah resolusi yang sakral dan akan aku tempel dimana saja aku bisa melihatnya setiap hari: di white board-ku yang berisi tempelan Resolusi Semester 5, Jadwal kuliah yang telah kuhapal diluar kepala, quotes: get out of the box, make agreat change!, dan sebuah fotokopi Surat Puas Baja-1 ku; lalu ku print dan kutempel juga di diaryku yang masih kosong; kutempel juga di cermin; di meja belajar; dan di monitor.

Here we go!

Resolusi 2010:

1. Menaikkan IP ke level 3 koma.
Mungkin bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain rajin kuliah dengan catatan bukan hanya untuk mengisi daftar hadir, tetapi untuk mendapatkan ilmu dari para dosen yang terhormat. Bisa juga dengan belajar setiap hari bersama orang-orang pintar dalam berbagai bidang, jadi harus punya banyak teman. Dan yang lebih penting adalah ber-strategi. Misalnya dengan mempelajari psikologi dosen, soal seperti apa yang sering dikeluarkan dalam ujian.

2. Bisa memasak dan diakui enak.
Sampai sekarang aku nggak bisa memasak. Aku cuma bisa membuat mi rebus, telor dadar, memasak air, nggoreng apapun dengan bumbu praktis yang bisa dibeli di toko, ngrebus sayur tanpa bumbu, bikin omlette, dan nggak ada lagi mungkin. Saatnya aku belajar memasak sama ibuku tercinta yang masakannya top markotop, nggak ada di warteg manapun! Belajar memasak dari internet, tapi jangan sampai orang rumah tau, biar kelihatan wah-ita-jago-masak padahal nyontek. Dan juga trial and error, belajar mengkombinasikan bumbu-bumbu sendiri, sampai menemukan suatu rasa yang enak dilidah sendiri dan juga orang lain. Dan tralala, jadilah the next Farrah Quin..

3. Belajar hemat sehemat hematnya.
Bukan berarti harus makan 2 kali sehari. Tetapi sebagai seorang yang hidup merantau di bumi Tembalang yang tandus, harus lebih selektif memilih sesuatu yang murah tetapi berkualitas, bukan sesuatu yang mahal dan nggak berkualitas. Trus kalau pengen makan enak dan mahal harus menutup pengeluaran di hal lain, misalnya fotokopi di tempat paling murah dengan kertas buram, bolak-balik, perkecil, asal masih bisa dibaca.

4. Menyelesaikan novelku yang pertama, yang belum pernah disentuh untuk diselesaikan di dalam .rtf ku yang kulengkapi dengan password yang sangat susah dihafal tetapi mudah diingat demi keamanan dokumen. Semoga novelku ini bisa diterbitkan atau disetujui untuk terbit tahun 2010 mendatang. Mungkin novel ini nggak matching dengan cita-citaku menjadi dosen, tetapi ya tidak ada salahnya 'menyumbang' sesuatu untuk generasi penerus.

5. Bersosialisasi secara utuh di kost.
Sekarang ini mungkin aku lebih bisa digambarkan sebagai si anak yang kurang bersosialisasi dengan anak-anak satu atap, namun lebih banyak basa-basi yang benar-benar basi karena selalu seperti itu setiap hari. Kurangi berduaan dengan sahabatku-kekasihku dan bla bla bla... Aku rindu punya temen-temen cewek seperti dulu, kemana-mana bareng...

6. Rajin belajar dimanapun kapanpun
Tak perlu didefinisikan secara rinci karena maksudnya sudah sangat jelas disini. Belajar itu bukan berarti membaca buku dan nggak bisa diganggu, belajar itu artinya ya belajar. Belajar. Belajar. ya seperti itulah belajar. Bukan cuma dari buku tapi dari lingkungan di sekitar kita.

Jumat, 01 Januari 2010

New Year's Eve

Berbeda dengan malam tahun baru setahun yang lalu, jika dulu aku menghabiskan malam pergantian tahun dengan nongkrong di gang buntu di suatu jalan entah apa namanya dan entah di depan rumah siapa, tahun ini kami (aku dan anak-anak kurang normal yang suka makan tapi masih kelaparan) menghabiskan acara tutup tahun ini dengan acara yang lebih jelas dan lebih manusiawi: Bakar-apapun-yang-bisa-dibakar!

1. Pra-TLWBH (The Long Way Back Home)

Aku selalu ragu kalau orang-orang seperti Arif dan Hanin bisa punya rencana hang-out tahun baru, apalagi Dika yang selalu idem sama Budi, dan Budi yang juga selalu idem sama Dika. Untunglah pada suatu siang di akhir kuliah tambahan Baskom di minggu tenang, ada orang-orang seperti Victor, Paman, Bayu, Yuda dan tentu saja aku, yang berhasil menyusun "Plan A" dan secepat mungkin membayar dana sumbangan sebesar Rp. 10.000;00 saja dan memprovokasi anak-anak yang lain untuk ikut membayar [asal sudah bayar walaupun nggak bisa datang kan nggak masalah]. Sebagian besar anak kost mau, maklum genre acaranya adalah makan-makan. Dan untungnya semuanya bayar tepat waktu kecuali Indah jadi aku bisa belanja secepatnya.

Transparansi dana sangat jelas sekali disini karena yang megang uangnya kan aku, jadi nggak mungkin disalah-gunakan. Hari kamis siang jam 1-an aku sama Yuda pergi belanja setelah sebelumnya menyerahkan selusin nutrijell ke Naibaho yang punya kompor gas. Karena pasar Banyumanik kurang meyakinkan jadi kita pergi ke Pasar Ungaran, ya jauh nggak papalah sekalian sama ngambil panggangan di rumah Yuda. Sampai di pasar langsung nyari kios sayur-sayur buat nyari jagung. Asal cup aja jagungnya soalnya nggak tahu yang bagus buat dibakar yang seperti apa. Nawar juga malas. Latihan nawarnya kapan-kapan saja lah, paling-paling juga pakai duit bersama. Trus nyari ikan segar, tapi gara-gara dah sore yang jual ikan dikit banget, jadi ya kita asal cup aja. Ya mau seperti apa pasti habis lah ikannya kalau dah kumpul-kumpul. Beli paha ayam juga asal saja yang penting anak-anak senang. Beli bumbu-bumbu juga tadi asal juga.

Baru mau pulang dari pasar, eh hujan deras banget. Petir pula. Mau nongkrong di dalam pasar kayaknya nggak matching ma dandanan yang dah uhuy, jadi ya terpaksa pura-pura muter-muter nyari apa gitu, tapi karena hujannya nggak selesai-selesai ya capek juga muter-muter jadi kita nyari tempat ngetem yang nggak norak. Akhirnya dapat juga tempat yang pas buat mojok (hahaha) yaitu di dekat pintu masuk yang deket wc umum (kita nggak didekat wc sumpah, jauh), di depan kios yang ditinggal pemiliknya, deket sama kios buah yang bikin ngiler (sampe pengen mbelanjain uang untuk beli buah dan dimakan sendiri tapi nggak jadi, ingat dosa). Trus liat orang mabuk yang jalan jatuh terus sampe berselimutkan lumpur dan dijadiin tontonan sama orang-orang pasar. Lumayan lah buat tontonan daripada sepi.

Jam 2-an kita nekat menerobos gerimis buat ngambil panggangan. Dingin banget sumpah. Sampai di rumah Yuda, langsung nyuci ikan sama ayam. Kayaknya sampai amis semua badan kita, tapi biarlah, the show must go on. Kata si bundanya Yuda si kita belinya kemahalan semua (kelihatan bloon, calon teknik sipil dibohongin sama penjual jagung, ikan, ayam). Tapi ya sudahlah, namanya juga orang awam. Lebih gawat lagi kalau Hanin yang belanja, ikan satu kilo 50000 pasti di-oke-in sama dia.

Jam 3 meluncur ke Tembalang lagi biar ikan ma ayamnya cepet-cepet diurus sama Naibaho, bukan Hanin. Kalau dia yang ngurus malah dihabisin dalam keadaan mentah pasti. Perjalanan ke Tembalang sangatlah afu sekali. Jalanan macet berat. Jadi cuma jalan merangkak sampai lewat ke bahu jalan dan hampir masuk ke lubang "awas ada galian kabel" untungnya masih sadar dan langsung belok. Berjam-jam lamanya, apa lagi arah luar kota macetnya ya ampun, nyampe ada sopir yang maen psp saking no-moving nya. Benar-benar perjuangan yang berat. Yang paling parah adalah di sepanjang pintu keluar tol. Heran orang-orang pada pulang kampung semua. Tapi arah ke tembalang lumayan sepi, dah santai-santai jalan kenceng eh dari lajur yang sama ada bis kota, motor, mobil dari arah berlawanan banyak banget. Apa-apaan ini, hey kalian nggak bisa baca garis marka? Diamana ke smart-an kalian? Tapi over it all akhirnya sampai ngesrep juga dan jalanan yang normal. Langsung ke Naibaho ngasih ikan-ayam buat diurus.

Jam 7 kurang alhamdulillah dah pada kumpul semua anak-anak kost. Langsung tancap gas... Here we go. Turun sigarbencah yang seram itu dan setelah ngantri di pom bensin yang antriannya panjangnya ratusan meter, akhirnya sampai juga di tempat Hudy: sebuah rumah baru yang kosong dan hommy.

2. Jagung Bakar Party

Persiapan arang memakan waktu yang lama. Untunglah ada orang-orang berbakat seperti Yuda. Kupas jagung, oles-oles mentega (cuma mentega) tapi pada ketagihan. Hmmm enak banget. Ada yang gosong juga gara-gara lupa dibalik, tapi toh gosong juga pada doyan. Mana jam 10 an ada Ndandong datang membawakan seplastik besar jagung bule yang ompong-ompong dan dia langsung pulang. Ck ck ck. Semakin banyak saja bahan makanannya. Asik. Sambil bakar jagung, ikan ma ayam di oven dulu biar pada bakarnya ntar sebentar doang. Si Victor ngulek sambel yang pedes abis dan rasanya nggak jelas tapi toh habis juga. Nggak lupa juga pinjem magicom buat nanak nasi 1,5 kilo, semoga hanin nggak kurang. Hahaha. Jagung bakar dan puding, nggak klop tapi yummi, enak.

3. Fish & chicken Party

Bakar-bakar ikan ma paha ayam, lalu makan bareng sama nasi yang kurang lembek (menurutku), sama sambal khas Victor. Nyam nyam enak banget. Sambil nonton tv yang chanelnya dipindah-pindah terus. Dipadu dengan lawakan-lawakan konyol khas anak-anak gatel yang bikin sakit perut. Tiap orang yang lewat pada terpesona dengan pesta kebun kita... hohoho




4.Mendem Duren

Budi ma Victor pergi entah kemana nyari durian. Pas pulang dapat 4 buah durian ya ukurannya lumayan gede lah untuk hal yang gratis (didonaturi oleh Victor yang baru digaji HRW)... Arif ma Bayu ngumpet di depan TV nggak tahan ma baunya, kita dengan bahagianya menebarkan bau menyengat durian ke mereka. Durinnya ya lumayan lah, walaupun ada yang ketipu satu: ada belatungnya. Tapi ya lumayan lah, dah mendem duren...

5. The Hill Tamansari
Jam 23.50 langsung cabut ke Meteseh atau apalah namanya, ya bukit yang lumayan tinggi untuk bisa melihat kembang api atau Fireworks. Sudah bisa ditebak: tempat apapun yang bisa digunakan untuk melihat kemabng api pasti ramai dan jika kamu sudah terjebak di dalam kerumunan itu pastikamu akan susah untuk melepaskan diri. Dan benar sekali. Orang-orang tua muda bayi balita ma remaja-remaja tumpah ruah jadi satu. Tapi sayangnya dari The Hill Tamansari ini nggak heboh kembang apinya, nggak kelihatan juga yang bagus banget kembang apinya. Semuanya standart. Kalau masalah kembang api aku lebih suka tahun kemaren, dari Bukit Sari yang penuh sesak itu.

6. Kumpul lagi dan bersih-bersih

Ke tempat Hudy lagi, ngobrol sampai pagi. Sampai jam setengah 3. Setelah semuanya diberesin (ya mungkin juga masih ada yang kelupaan) kita semua ya polling untuk pulang lewat mana. Sigarbencah takut katanya, oke lewat java. Oke Hudy, pamitan, sama berterimakasih ini itu, maaf ini itu, dan lain-lain.

7. TLWBH

Jalanan rame banget dari arah berlawanan. Mungkin itu tandanya orang-orang pada pulang ke rumah masing-masing. Firasatmulai nggak baik saat naek ke gombel. Macet total. Total. Total. Benar-benar nggak bisa lewat. Akhirnya belok lagi, lewat jalan lama depan gombel golf, tapi ternyata lebih parah lagi kemacetannya. Orang-orang pada tidur di pinggir jalan, pada jualan di tengah jalan, pada tidur di trotoar, dan banyak lagi kejadian-kejadian yang nggak setiap hari terjadi. Akhirnya kita memutuskan untuk turun lagi daripada terjebak ditengah kemacetan dan nggak bisa bergerak sama sekali sampai kehabisan oksige, mendingan ngetem di depan Bina Bangsa atau apalah dan melihat orang-orang bodoh yang dengan pedenya memutar ke jalan lama yang mereka kira nggak macet itu. Di trotoar: beralaskan jas hujan sebagai pengganti tikar, Hanin yang mau minta SP ke Pak Hari jam 9 langsung ngorok ditempat. Indah juga tidur sambil duduk. Ya pokoknya sampai subuh kita jadi anak jalanan. Jam 4 jalanan lumayan normal, dan kita tancap gas untuk pulang. Akhirnya bisa sampai kosan juga....

Untuk semuanya; terimakasih, acaranya berkesan...