Minggu, 07 Maret 2010

Ngremble, Fishing To Eating


  1. Entah idenya muncul dari siapa, tiba-tiba saja ada yang mengajakku mancing.
  2. Banyak terpaksa nggak ikut, dengan alasan yang berbeda-beda: Arif nggak doyan makan ikan, Budi ngakunya males mandi habis Sabtu-Ceria bareng angkatan 2009, Hanif katanya ditinggal padahal mau ikut (waduh bukannya sudah ada yang nanyain "jadi ikut nggak?"
  3. Perjalanan diawali dengan si Hanin yang ban motornya bocor di garasi.
  4. Anak-anak bawah pulang ke rumah masing-masing dulu sebelum berangkat, dengan alasan yang aneh-aneh, kemudian kumpul di rumah Agung dan berangkat, tapi di persimpangan pertama, Bayu sudah salah jalan. Untung dia bukan penunjuk arah.

  5. Setelah melewati jalan yang naik turun dan penuh dengan pemandangan yang hijau dimana-mana, akhirnya sampa juga di Ngrembel Asri.

  6. Nyari tempat yang pw biar mancingnya berkesan. Tanpa tau yang ini kolam bawal, gurami, mujahir, lele, ataupun hiu, kami asal saja mencari tempat. Tempat no 30-31, wireless signal good (for what, we want to fishing, not go for browsing or chatting!).

  7. Pesen pancing, 4 saja sudah cukup lah, lagian yang namanya Hanin nggak pengen mancing, takut ketahuan nggak berbakat. Selidik punya selidik aku sedikit hoki dengan pancinganku dan juga tempat aku melempar kail. Pertama langsung dapat, lumayan gede lah, yang lain cuma dapat bayi-bayi ikan. Nisa juga sering dapet ikan. Lho, yang cowok-cowok apa nggak bisa mancing? Hmmm...
  8. Tararaaaaaaaa... Victor yang sedang melamun tiba-tiba bilang gini, "Ha, HRW?" Kita si nggak lantas percaya begitu saja. Tapi setelah kita amati sesosok wajah yang sedang berjalan bersama entah siapa, kita ketawa. Heran. Takdir. Dia awalnya belum melihat keberadaan kita, sampai akhirnya dia melewati kita-kita dan membalas sapaan kita sambil tertawa-tawa-seperti-biasa. Beliau pun melenggang bersama rombongannya, namun beberapa menit kemudian meluangkan waktunya untuk menanyakan apa yang kita lakukan disana. "Lho ini kok 7-2, tapi kalo malam ya 2-2 lah. Lah ini mancing buat dimakan atau pesen? Lo kok nggak dapat ikan? Nah itu to kalau ada saya langsung ada yang dapat ikan? Nanti ya kalau saya pergi ya pasti nggak ada yang dapat ikannya. Nah ini Ita, ini Victor, Yuda... " dan pokoknya masih banyak lagi kata-kata khasnya beliau. Aduh, semoga saja Pak Hari nggak menyinggung 'pertemuan' ini di kuliah Baja 2 nanti. Bisa mati. Apalagi kalau dari segi yang memalukan. Hey, kita wisata kuliner Pak, sesuai saran Bapak...
  9. HRW datang dengan jelasnya, dan tiba-tiba saja sudah menghilang entah kemana. Lewat mana dia pulang? Hmmm, hebat.
  10. Capek memancing, sementara yang dipancing nggak mau nyangkut kail padahal umpannya sudah dihabisin rame-rame di bawah air, akhirnya kita mutusin untuk langsung pesen aja. Bingung juga mau pesen yang 2 kilo1, 1 kilo 2, 1 kilo 3, atau satu kilo 4, untungnya si Nisa yang ngurusin sama Mbak-mbaknya. Jadinya beli 9 ekor, 2.4 kilo.

  11. Sambil nungguin pesenan datang (katanya 29 menit) kita maen poker. Yes, poker everywhere. Warisan! Warisan, warisan...

  12. Akhirnya datang juga. Saatnya makan... Aduh kok rasanya manis banget bakarannya? But, it's okey lah. Emm, ada insiden teko juga gara-gara si Yuda. Waduh, jadi kasihan Mas-masnya jadi disuruh ngepel.

  13. Mancing sudah, makan sudah, saatnya untuk itung-tungan hutang. Hutang sudah impas sana-sini, saatnya ngapaen lagi ya? Outbond? Okeee...

  14. Bingung juga milih mau ngapaen kayaknya aku nggak berminat membuat jantungku copot. Pikir sana-sini, akhirnya aku pilih naek AVP atau APV entahlah, sama flying fox (aduh aku belum pernah sumpah, aku takut jangan-jangan jantungku copot beneran ntar), si Nisa milih Bunge Trampolin atau apalah namanya, kalau aku wah aku nggak berani yang kayak gitu. Tubuhku nanti kalau diloncat-loncatin sebegitu tingginya bisa-bisa jantung ku mengalami displacement. Atau mencolot keluar lewat mulut. Oh no..

  15. Si Agung nantangin balapan pake apv. Tapi nggak maksimal soalnya yang warnanya biru suka mati-mati sendiri mesinnya. Pas ngeliat orang maen gituan si rasa-rasanya kok gampang ya, tapi kok kalau di coba sendiri kok kayak mau nabrak-nabrak pembatas terus, pokoknya susah lah. Ya mungkin kurang biasa juga. But, like this lah.

  16. Flying Fox. The hardest part for me. Mungkin lebih baik kutukarkan saja tiketku dengan uang lagi. Hmmm. Si Nisa berkesempatan pertama. Setelah peralatan siap, dia meluncur, menjerit-jerit, dan sampe hanya dalam hitungan detik saja. Wah, aku nggak siap. Wah, giliranku? Aku nggak siap. Oke, aku siap. Tunggu, tunggu, aku nggak siap. Semua tali-tali dikencengin, soalnya ukuranku harus yang paling kecil. Semua perlengkapan sudah siap, tapi aku belum. Hmm, mas aku nggak jadi saja apa ya. Tapi pengen tahu juga rasanya kayak apa. Oh ya mas, nunggu saya siap ya. Oke, sudah. Akhirnya aku memberanikan diri, meskipun batinku menjerit pilu minta dibatalkan saja. Tapi aku sudah terlanjur diudarakan. Kakiku sudah nggak menapak apa-apa lagi. Tanganku berpegangan erat pada tali. Pertama-tama rasanya enak, pelan-pelan, sampai mas-mas penjaganya melepaskan talinya dan ... Aku nggak bisa berkata-kata atau memikirkan apapun. Aku bahkan nggak bisa menjerit pada awalnya. Aku nggak tahu ekspresiku seperti apa, tapi aku takut banget sumpah. Rasanya sangat berbeda banget sama yang namanya repling. Itu asyik. Kalo yang ini, hmm, semakin lama semakin kencang dan aku sudah pasrah. Jantungku berdetak cepat, dan saat kecepatan full tiba-tiba saja seperti direm. Yup, I'm done.

  17. Akhirnya kita semua mondar-mandir sebentar dan pulang.

  18. Nggak kapok untuk mancing lagi, kapok flying fox.

Jumat, 05 Maret 2010

Rekap Kuliah Minggu Pertama Semester 6

Minggu pertama ini nggak ada kuliah yang kosong sama sekali. Bahkan semuanya cukup membuat nafasku sesak. Semua dosen memberikan tugas, dan nggak jarang tugasnya sedikit aneh. Oh ya, kubicarakan satu persatu.

Pertama adalah mata kuliah Manajemen Konstruksi. Pak Agung langsung memberikan tugas mencari gambar kerja untuk dianalisis di pertemuan berikutnya. Takdirku di kelompok 1, tugasnya adalah gambar gedung. Okey, ada Henro, mungkin dia yang akan bersedia menyediakan gambarnya. Mungkin aku juga akan mencari gambar gedung, tapi itu masih mungkin mengingat besok aku akan mengikuti kegiatan bersenang-senang di Sabtu ceria bersama anak-anak 2009 dan juga akan pergi ke pemancingan bersama anak-anak Matoga.

Masih dihari yang sama, disertai badai dan suara petir menggelegar, Bu Hary Budieny mengajarkan ilmu PSDA (Pengembangan Sumber Daya Air) walaupun masih dalam materi pendahuluan dan pengenalan. Namun dia juga sudah memberikan tugas. Tugasnya adalah presentasi kelompok. Entah bagaimana caranya aku sekelompok dengan Henro-yang-super-cerewet-untuk-masalah-tugas, Ayu-yang-super-polos-dan-baik-hati, Ai-yang-kadang-alay-dalam-mengutarakan-pendapat-dan-dia-patnerku-beberapa-kali, dan Aji-yang-jago-banget-sama-rubik. Semoga suatu saat nanti presentasinya lancar. Amin.

Kemudian ada juga yang namanya PJR (Perancangan Jalan Rel), katanya cukup mengerikan untuk tugas karena tugas harus selesai sebelum UTS. Dan kalau tidak maka nilai kita otomatis E meskipun nilai UTS dan UAS kita sempurna. Untuk tahun ini tugasnya adalah berkelompok, masing-masing 8 orang dan harus melakukan survey ke tempat-tempat yang ada jalan relnya, ya pokoknya ya survey lah... Bisa kubayangkan dari sekarang betapa panasnya...

Kemudian ada juga Lapangan Terbang. Aku seperti merasakan deja vu seperti saat aku kuliah RLL. Pak Wicak hoby sekali menyinggung masalah kematian dalam sudut yang berbeda. Sudut yang humoris. Menarik, oke. Tugasnya juga presentasi, namun ada perbedaannya. Jadi satu kelompok itu ada 8 orang atau sekitar itu lah. Materi presentasi dan juga urutan presentasi ditentukan oleh Pak Wicak. Namun, siapa berperan sebagai apa, apakah moderator, penyaji, notula, anggota, dsb, dtentukan dengan undian. Hmmm...

Kemudian ada juga TPK (Teknik Pelaksanaan Konstruksi). Tugasnya lumayan berat, namun digotong bersama-sama. Untuk tugas kelas, membuat maket abutment jembatan beton bertulang. Menurutku membuat maket tulangan dari kawat nggak semudah kelihatannya. Dan tugas ini harus dikumpulkan maksimal satu minggu sebelum UTS. Hmmm, so soon! Kemudian untuk tugas pribadi adalah presentasi. Ada 4 materi yaitu persiapan, pembesian, pengecoran, dan pasangan pondasi. Materi itu dipresentasikan pada pertemuan ke 3-6. Namun siapa yang menyajikan materi adalah diundi, seperti sistem doorprize. Dan tiap orang punya kesempatan maju berkali-kali, karena namanya ikut diundi lagi pada presentasi berikutnya. Hmmm... Semoga bukan aku orangnya. Dan harus survey juga untuk mendukung presentasi. Hmm, benar-benar menyita waktu. Jadi karena kita selalu berkesempatan maju kapanpun, dengan materi yang berbeda-beda sesuai materi kuliah pada hari itu, maka tiap mahasiswa harus menyiapkan mental tiap minggunya. dan nggak boleh bolos dan telat. Akan ada tugas tambahan, kata Pak Arif.

Lalu Pelabuhan. Tugasnya adalah membuat makalah atau paper atau sejenis itu, tentang pelabuhan. Namun nggak boleh ada yang sama. Mungkin copy-paste internet, edit edit, jadi lah...

Untuk mata kuliah selain itu belum memberikan Tugas Kecil maupun Tugas Besar. Kalau yang namanya presentasi dan makalah itu tugas kecil namanya. Yang namanya tugas besar ya tugas yang ada Surat Puasnya, dan diberi waktu satu semester untuk mengejar Surat Puas itu untuk syarat ujian.

Untuk Struktur Baja 2, pada kuliah pembukaan, Pak HRW membahas mengenai ujian Struktur Baja 1, dimana hampir semua mahasiswa membuat kekonyolan dalam membuat mengerjakan ujiannya. Iya, konyol banget. Apalagi punyaku. Sudah nulisnya pakai pensil, bajanya terlalu kecil (lebih kecil dari punya Harijan yang sudah dianggap Pak HRW konyol sekali), dan nggak ngerjain soal nomor 2. Aku seharusnya mendapat nilai D atau C min, namun ditolong beliau karena beliau mengingatku sebagai Ita-yang-dapat-SP-pertama-dan-image-rajin-lainnya. Untung aku dikasih nilai B. Alhamdulillah...

Lalu Mekanika Getaran & Gempa, cukup mengasyikkan belajar mengenai Pembebanan pada Struktur. Bu Yulita suaranya juga enak, nggak bikin ngantuk.

Kemudian ada juga Bangunan Tenaga Air, oleh sang profesor Yutata. Kuliah diisi dengan pendahuluan. Pak Prof banyak cerita mengenai dia, hidupnya, dll.

Dan yang paling membuatku ngantuk adalah Analisa Struktur 2. Sepertinya akan kurevisi dalam waktu dekat. Namun nilaiku kan masih D, kapan perbaikannya kalau nggak kuulang sekarang? Well kenapa aku kurang semangat disini, hari Kamis kemarin aku kuliah, dan nggak ada temenku yang angkatan 2007. Udah pengen kabur aja. Eh rombongan angkatan lama pada naik, diikuti Pak Himawan, jadi aku ikut-ikutan masuk kelas. Nela aku sms tapi masih dikantin. Aku pengen duduk depan tapi sudah penuh dengan anak-anak 2008. Dibelakang penuh denagn senior. Untung ada yang kosong dipojokan, duduk ma Mbak Ika atau siapalah namanya, trus sms Nela suruh cepet naik. Akhirnya dia naik juga pas pak Him ngabsenin satu-satu. Kuliahnya bikin aku ngantuk, seperti deja vu saja. Aku nggak bisa membayangkan bakal duduk disitu 3 jam lamanya. Untung baru 2 jam dia sudah keluar. Hmmm, seperti mendapat undian lotre saja! Revisi go...

Itulah sekilas mengenai minggu pertama kuliahku di semester 6. Semoga minggu depan lebih baik. Amin.

Minggu, 28 Februari 2010

New Chapter, New Hope

Libur panjang 40 hari lebih akhirnya kelar juga. Bukannya bersyukur, tapi bukan pula sedih. Well, besok itu hari pertama di semester 6. Kalau menyebut angka 6 rasanya membuatku panik. Aku sudah semester 6! Artinya aku semakin dekat ke apa yang disebut sebagai "angkatan tua". Tua bukan berarti pandai dan lebih berpengalaman. Tua disini berarti "nggak juga memakai toga." Oh my God.

Masih ada kesempatan lulus pada waktunya, asal kita mau berusaha. Mungkin grafik IP ku tiap semester selalu turun signifikan dan naik kecil sekali, namun disinilah tantangan semester 6. Sebuah impian bisa membuat perubahan.

Aku memulai satu hal kecil. Agenda! Yeah, mungkin aku akan bosan dalam waktu dua minggu kedepan, tapi apa salahnya aku mencobanya. Mencoba membuat agenda atau To-do-list atau apalah namanya. Seperti reminder fungsinya, jadi tiap hari kita tahu apa yang harus kita lakukan sebagai prioritas. Atau juga sebagai pengingat dateline atau deadline atau deathline atau apapun kamu menyebutnya. Otak kita dirancang untuk mudah lupa, jadi kenapa kita nggak memulai membuat agenda dan berkata selamat-tinggal-lupa!

Jangan jadikan semester-semester lalu sebagai mimpi buruk dan penjara bagi kita, semester lalu hanyalah apa yang kita dapatkan atas apa yang kita lakukan. Kalau itu buruk, itu adalah pelajaran agar kita lebih baik lagi ke depannya. Kalau sudah dicoba memperbaiki diri namun mash nihil hasilnya, mungkin kita perlu yang namanya merevolusi diri dan pikiran secara besar-besaran. Jangan takut untuk mencoba sesuatu yang baru dan lingkungan yang baru, selama dalam hal-hal yang positif.

Sesuatu yang diawali dengan niat yang baik dan disertai dengan kerja keras untuk mendapatkannya serta dikuatkan dengan doa, pasti nggak akan sia-sia. Let's try!

Senin, 22 Februari 2010

I'm A Sinner

Hari ini dikasih job aneh. Fero 'Ndandong' si kordoswal yang ngasih tugas itu ke aku... Lalu kenapa ke aku? Katanya karena aku yang pandai memalsu tandatangan anak-anak. Oh my God!

Jadi ceritanya begini. Semua orang pulang ke kampung halamannya masing-masing. Yang tersisa di Semarang hanyalah orang-orang asli Semarang dan orang-orang sok sibuk yang ada tugas organisasi atau ada kepentingan lain. Jarang sekali ada yang sengaja pulang ke Semarang untuk mengisi KRS. Bahkan mungkin ada yang sampai sekarang belum pernah mengisi KRS sendiri. Payah, mau jadi apa bangsa ini kalau setiap mahasiswanya adalah mahasiswa titip: titip KRS, titip absen, titip fotokopi, dan lain-lain.

Karena pada jauh dari Semarang makanya semuanya menitipkannya pada kordoswal (terutama untuk 2171). Tapi semester ini membuat semua orang bingung. Kurang banget koordinasi dari penitip KRS dan yang dititipi. Hey, kamu yang tahu tentang apa-apa yang ada hubungannya dengan mata kuliah yang sudah kamu ambil, yang belum kamu ambil, yang mau kamu ambil, maupun yang sudah pernah kamu ambil dan nggak puas akan nilainya. Kenapa harus yang disini yang ikut pusing memikirkan bagaimana jadwalmu berbentrokan dengan jadwalmu yang lain, atau apakah jadwalmu cukup banyak diminati teman-temanmu yang lain.

Terlepas dari semua hal mengenai bagaiman KRS mu diisi, yang lebih penting lagi adalah tandatanganmu. Hey, kamu kan nggak ada, lalu siapa yang mengisi tandatanganmu?

Ndandong mengirimiku berbendel-bendel kertas baik manual taupun online yang harus kutandatangani--atau lebih tepatnya harus kutandatangani dengan tandatangan orang lain. Wah aku berdosa sekali melakukan pekerjaan kotor ini. Bingung juga meniru tandatangan orang-orang yang aneh-aneh. Ada yang tandatangannya kayak anak TK, ada yang ada lambang paranadanya, ada yang penuh garis diagonal, ada yang bertumpuk-tumpuk, ada yang seperti benang kusut, ada yang girlie seolah-olah pemiliknya akan dianggap gaul kalau tandatangannya segaul itu. Semuanya kulakukan dengan ikhlas, kalau ada yang nggak suka hasilnya, silahkan print sendiri KRS mu dan tandatangani sendiri. Oke, aku nggak suka pekerjaan kotor itu, tapi demi membantu saudara satu doswal ya nggak apa-apalah. Itung-itung beramal.

Bagiku melakukan itu semua seperti menggambar, menggambar garis-garis atau lengkung-lengkung. Sedikit mengasyikkan tapi membuatku gemetaran, karena hasilnya nggak pernah seperti aslinya. Karena tiap orang punya penekanan dan ciri khas sendiri dalam memakai alat tulis. Oh ya, tadi aku sempat salah menempatkan tandatangan(ku) di KRS manual salah seorang temanku. Aku malah tandatangan di tempat Pak Sri harusnya tandatangan. Oh tidak! Segera ku tip ex seolah-olah nggak terjadi apa-apa.

Semoga anak-anak mulai menyadari pentingnya arti tandatangan itu sendiri. Tandatangan itu bukan sekedar coretan untaian namamu. Lebih dari itu, itu adalah tentang kepedulianmu akan dirimu, tentang kepedulianmu terhadap orang lain, dan juga bahkan tentang sesuatu hal yang hubungannya dengan orang banyak--apabila kamu sudah menjadi orang nantinya.

Waiting List

Disini, di komputerisasi (samping dosenat jurusan teknik sipil) ribuan mahasiswa membanjir. Beberapa berkelompok di depan komputer yang jumlahnya terbatas, beberapa di depan loket dan membuat bu Anik pusing dan sumpek, beberapa di bawah pohon dan membuat suara berisik, beberapa di tempat duduk-tempat duduk panjang dan pusing mengisi KRS masing-masing (mengisi KRS sendiri saja sudah membuat pusing apalagi mengisi KRS orang lain!).

Dan di suatu pojok dekat kantin, aku dan teman-teman satu angkatanku sibuk membenahi KRS-KRS satu dosen wali (2171) dan mendapati seseorang bernama Hanintyo Hadiman belum mengisi KRSnya. Aku turut prihatin, ada teman kita yang sampai saat ini BELUM mengisi KRS nya. Oh My God, dia mau kuliah semester 6 nggak sich?

Ini adalah hari libur yang cukup padat, parkiran penuh, kantin penuh dan tentu saja komputerisasi menjadi tujuan utama bagi mahasiswa yang ingin mengisi KRS online nya. Atau ya sekedar mencetak KRS atau KHS nya, karena hanya disinilah satu-satunya tempat dimana kita bisa mendapatkannya.

Fero sang koordinator dosen wali 2171 sedang mensortir pas foto-pas foto untuk segera ditempel. Dia adalah seorang koordinator dosen wali paling loyal seangkatan, dia mau mengurusi KRS begitu banyak anak dan terutama meminta tandatangan sang dosen wali yang susah sekali ditemui. Semoga keloyalan dan kerajinannya akan terus terbawqa terus sampai nanti, sampai pada saat semester 6, karena dia adalah partner Struktur Baja 2 ku...

Keep this waiting day with joy and spirit...

Minggu, 21 Februari 2010

Never Tired Of Farming

Tahu Farmville kan? Ya, salah satu games yang dapat kita mainkan lewat situs jejaring sosial facebook ini, mulai masuk ke duniaku beberapa bulan yang lalu. Entah kapan tepatnya. Saat itu ada seseorang yang meng-invite ku sebagai tetangga. Namanya Hanintyo Hadiman, teman sekelasku di Sipil. Dia adalah satu-satunya temanku yang mempunyai sifat kelelawar, tidur disaat orang-orang beraktifitas, dan beraktifitas ketika orang-orang mulai tidur. Dia menghabiskan waktunya di depan PC dengan tangan memegangi joy stick. Dia selalu memanggilku "Bu Satpam" padahal sebenarnya yang satpam-online adalah dia.

Ketika mengkonfirm request-nya, aku nggak sengaja menekan tombol Accept padahal aku ingin menekan tombol Ignore. Dan tararaaa.... Aku masuk ke suatu kebun mini dengan dua petak tanaman strobery dan terong siap untuk dipanen. Lalu kupanen dan akhirnya uangku bertambah. Lalu kubajak tanahnya dan kutanami lagi. Lalu aku berkunjung ke perkebunan Hanin dan mendapati bahwa dia sudah mempunyai beberapa ekor sapi dan pohon-pohon unik. Aku jadi tertarik. Dan aku semakin tertarik ketika tahu bahwa Si Dunkdunk juga mulai main Farmville. Tetanggaku memang cuma dua pada awalnya. Setiap beberapa jam aku memanen kebunku. Pada saat itu uang 1000 sudah sangat besar artinya.

Setelah beberapa bulan akhirnya levelku terus naik, sekarang di level 34, sedikit diatas Dunkdunk, Andhyka, Hanin (dia pensiun!), dan Budi. Tahu nggak kenapa Hanin pensiun? Karena levelnya sudah disalip kita-kita. Hey, come on guys, you don't have to be a child now!

Sekarang uang 1000 sudah nggak ada artinya lagi, pendapatanku sudah merangkak ke level 1.000.000 dan selalu dihabiskan untuk membangun rumah-rumah atau fasilitas umum. Tapi titik terendahku sekarang kupatok dengan 100.000.

Lalu kenapa aku belum berhenti dari permainan ini sekarang? Ya, aku belum bosan, meskipun sedikit mengurangi jam-farmvillku. Banyak hal-hal yang terus di update di permainan ini, sehingga kita hampir selalu menemukan sesuatu yang baru. Kita juga dalam hidup bertetangga juga harus saling membantu, agar kedua belah pihak untung. Aku senang untuk berkunjung ke sawah orang lain; mengunjungi sawah-sawah menakjubkan yang setiap orang selalu berbeda; memberi pupuk tanaman orang lain dan nggak bisa memupuk tanaman kita sendiri; memberi makan ayam orang lain dan nggak bisa memberi makan ayam sendiri; menaburkan unwithered spray dan dengan menakjubkan tanaman orang lain yang sudah busuk menjadi segar kembali dan siap panen; memberikan kado untuk orang lain, baik itu pohon, hewan, koleksi maupun aksesoris; ataupun membangun rumah kuda dengan tetangga kta, dan lain-lain. dan ada juga yang menarik. Aku sering sekali me-refresh home page facebook-ku agar aku menjadi orang pertama yang mendapatkan hewan atau sesuatu yang lain. I like to clame everything, but I miss everything too because somebody does.

Bersosialisasi di farmville bukan saja tentang itu semua. Kita bahkan selalu membicarakannya di jam kuliah dan jam makan siang. Kelihatannya memang sesuatu yang sepele dan nggak ada asiknya, tapi menurutku permainan ini ada seninya. Ada pelajarannya. Pelajaran yang paling jelas adalah bahwa untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan adalah tidak secepat membalik telapak tangan, tapi ada langkah-langkah yang harus dilewati.

I love my Farmville. Viva Farmville!

Game Over. Play Again?


Itulah target yang pernah kubuat bersama Nela di awal semester 5. Sekarang semua hasil sudah keluar dan tararaaaaa..... Semua targetku gagal, hanya satu mungkin yang sesuai harapanku. Aku sering bertanya dalam hati, kenapa ya aku nggak pernah seperti apa yang kutargetkan? Atau memang targetku terlalu tinggi? Mungkin saja. Atau mungkin aku yang kurang berusaha dalam mencapai targetku itu? Mungkin juga.

Atau aku memang tidak menyadari kalau sebenarnya aku itu tidak sepintar yang aku kira. Tunggu, aku nggak bilang kalau aku pintar. Maksudku, kalau aku mengira kemampuanku itu sampai 9, ternyata aku cuma 5 sebenarnya. Hmmm, menyedihkan sekali ada orang yang tidak menyadari dirinya sendiri.

Kebanyakan targetku yang A mendapat B, dan yang B mendapat C. Hmmm, targetku terlalu muluk-muluk mungkin.

Tapi kalau aku tak membuat target apapun, tidak ada suatu perjuangan untuk mendapatkan 'sesuatu'. Semoga saja target-target yang gagal itu menjadikan pelajaran bagiku untuk semester 6. Aku tidak akan menurunkan targetku agar aku bisa mencapainya. Tapi lebih dari itu, bukan target yang akan kuturunkan tetapi kualitasku sebagai mahasiswa yang akan kunaikkan.




Sabtu, 20 Februari 2010

Tipe-tipe Mafiosa

Libur panjang akan segera berakhir dan Semester Genap akan segera datang. Semua nilai sudah dipublikasikan dan mungkin semua Mafiosa sudah tahu semua nasib IP dan IPK-nya. Mungkin juga ada yang belum tahu, tak menutup kemungkinan. Tapi keterlaluan sekali, sebagai teman aku ikut prihatin. Hey, kenapa kamu belum tahu nilaimu, kenapa? Apapun alasanmu, jangan pernah takut untuk melihat hasil kerja kerasmu di semester lalu, because it yours!

Tiap Mafiosa mempunyai cara sendiri-sendiri dalam menilai hasil IP mereka, dan apa yang mereka bicarakan tak selalu sama dengan apa yang mereka pikirkan. Aku sudah cukup lama berada di Sipil untuk menganalisis pikiran-pikiran dan tipe Mafiosa.

Tipe Mafiosa dari segi Perilaku dan Nilai:

1. Mafiosa tipe ini nggak bergabung dalam organisasi manapun, tidak diketahui dimana keberadaannya, susah dicari, punya nomor yang nggak bisa ditelpon, dan selalu dicari-cari dosen wali.

2. Mafiosa tipe ini nggak bergabung dalam organisasi manapun, nggak pernah bolos kuliah, selalu mengejakan tugas besar kapanpun dimanapun, aktif tanya jawab di kelas, selalu menghabiskan waktu di tiga tempat setiap harinya: kampus, kost dan warteg. Dan selalu mendaapt IP di atas 2,5.

3.Mafiosa tipe ini tidak begitu berbeda dengan tipe 2: nggak bergabung dalam organisasi manapun, nggak pernah bolos kuliah, selalu mengejakan tugas besar kapanpun dimanapun, aktif tanya jawab di kelas, selalu menghabiskan waktu di tiga tempat setiap harinya: kampus, kost dan warteg. Tetapi IP nya tak seberuntung tipe 2.

4. Mafiosa tipe ini sering bolos kuliah, namun pandai memilih apa yang mesti dipelajari ketika ujian, sehingga nilai ujiannya bagus dan tentu saja IP-nya bagus.

5. Mafiosa tipe ini tidak begitu pandai pada dasarnya, tetapi selalu mempersiapkan ujian dengan sebaik-baiknya, dengan selembar atau berlembar-lembar contekan sehingga nilainya selalu bagus.

6. Mafiosa tipe ini tidak terlalu pandai dan tidak berani membawa contekan ketika ujian, biasanya nilainya pas-pasan atau bahkan jelek.

7. Mafiosa tipe ini tidak pernah bolos kuliah, aktif di organisasi, aktif di kelas, tugas besar nggak pernah terseok-seok, kenal banyak senior, dikenal dosen-dosen, ketika ujian selalu khawatir nilainya jelek padahal dia sudah sangat mahir latihan soal, dan nilai yang dia dapat selalu bagus.

8. Mafiosa tipe ini selalu mengerti ketika kuliah, selalu menjadi tempat bertanya mafiosa yang lain, pandai bertanya dan menjawab Dosen, namun ketika ujian selalu gagal.

9. Mafiosa tipe ini nggak begitu menonjol ketika kuliah, bukan tempat bertanya, text book, dan IP nya selalu bagus.


Masih banyak tipe-tipe gabungan dari tipe-tipe diatas...
Who are you?

Jumat, 19 Februari 2010

Soft Skill dan Dunia Kerja

Bidang 1 HMS lagi punya kesibukan, yaitu menyelenggarakan kuliah tamu atau kuliah umum--entahlah apa namanya, aku sebagai panitia juga kurang mengerti. Kuliah tamu ini bertemakan Soft Skill dan Dunia Kerja, nantinya akan dihadiri oleh Ir. Adityawarman sebagai pembicara. Beliau adalah Direktur Teknik PT Jasa Marga. Selain beliau masih ada juga pembicara-pembicara keren lainnya. Siapa-siapanya aku kurang tahu, coba tanya Victor sang ketua panitianya, mungkin dia lebih tahu.

Panitia mulai mempersipkan segala tetek-mbengeknya, mulai dari pengadaan dana dan juga perlengkapan. Alhamdulillah, proposal permintaan dana diterima dengan baik dan semoga saja uangnya cukup. Semua berkas-berkas sudah mulai dipersiapkan dan insya Allah akan segera beres minggu ini juga.

Sebagai bendahara panitia, aku tadi hilir mudik kesana kemari untuk membuat SPj, dan untungnya selesai juga. Thanks ya Dunkdunk yang sudah membantuku...

Kuliah tamu ini akan diselenggarakan pertengahan Maret. Pendaftar sudah mulai membanjir, namun kuotanya terbatas. Ayo segera daftar, atau kalian akan menyesal. Kuliah Umum ini cuma setengah hari, GRATIS, dapat makan-minum, dapat sertifikat dan dapat bekal kerja pula...

Don't miss it!

Untuk keterangan lebih lengkap tentang pendaftaran, buka facebook Himpunan Mahasiswa Sipil Undip...

Senin, 25 Januari 2010

Tooth Extraction

Toothache is one of my big problem.

Well, bagi yang pernah sakit gigi pasti tahu sakitnya seperti apa. Linu saja sudah membuat kita nggak bisa ngapa-ngapain, apalagi sakit gigi bener-bener. Sampai nangis-nangis pasti. Bagi anak-anak yang masih bergigi susu, mungkin bukan masalah. Berlubang masih bisa bertransformasi menjadi baru kembali. Namun bagi orang-orang yang umurnya sudah kepala dua seperti aku pasti hal itu mengganggu banget.

Ayahku antusias banget pas aku bilang pengen cabut gigi. Oh, My God, aku memang pernah cabut gigi tapi itu dulu banget ketika gigi susuku mau tanggal. Waktu itu nggak begitu kerasa sakitnya, soalnya giginya emang dah mau tanggal.

Dan akhirnya aku diantar ayahku ke dokter Lucia Indarwati atau siapalah namanya, yang jelas aku pengen kabur saja membayangkan gigiku akan di "obeng". Membayangkan seseorang menyuntik gusiku saja sudah membuatku ngilu dan memegangi rahangku, padahal aku masih di ruang tunggu dan saat itu nggak ada tanda-tanda keberadaan sang dokter. Ayahku selalu menenangkanku dengan bilang, "nggak akan kerasa apa-apa."

Aku pura-pura tenang dengan membaca-baca majalah jadul yang disediakan di ruang tunggu, tapi pikiranku melayang jauh ke bagaimana nanti bu dokter menggoyang-goyang gigiku dengan obengnya dan mencabutnya tanpa ampun.

Ketika giliranku masuk, aku seperti menyesal datang ke tempat ini. Menyeramkan sekali. Lampu-lampu putih yang mencolok, tempat duduk yang setengah berbaring, seperangkat alat-alat dokter gigi, tempat berkumur, dan yang paling menyeramkan dari semuanya adalah seseorang dengan jas putihnya dan tatapan-tidak-apa-apa-nya.

Sedikit basa-basi nggak membuatku tenang. Tapi aku sudah pasrah, keluar dari sana membuatku terlihat bukan seperti seorang 21 tahun. Dokter Lucia menyuntikkan biusnya di gusiku, tanganku memegang erat pegangan kursi, aku tegang dan mulai mati rasa. Kenapa mati rasanya cuma di sekitar gigiku saja, kenapa nggak sekalian seluruh badanku biar aku nggak melihat proses pencabutan nanti. Oke, oke, beliau lebih tahu, dia kan dokter, dan aku hanyalah seorang mahasiswa yang sering sakit gigi.

Aku disuruh menunggu diluar sampai merasa benar-benar mati rasa. Hmmm, ini adalah suatu perasaan yang nggak enak sekali. Aneh sekali memegang pipimu, dan mendapati bahwa pipimu serasa bukan bagian dari dirimu. Benar-benar nggak mengenakkan sekali. Bagaimana kalau aku kabur sekarang?

Akhirnya aku dipanggil kembali. Dokter Lucia mengetesku apakah memang benar-benar sudah mati rasa. Tunggu dulu! Kenapa harus dibius? Pasti karena rasanya sakit sekali. Hiiiii... Memang sudah nggak terasa apa-apa, tapi tetap saja ngeri sekali melihat seseorang menusuk-nusukan jarumnya ke dalam gusimu. Dan akhirnya beliau memasukkan "obeng"nya dan mulai mengguncang gigiku. Dasyat! Aku berpegangan pada tangan beliau dan dimarahi. Maaf, refleks. Digoyang lagi. Hey, aku melihat gerakan tanganmu dan obengmu itu! Tidak, tidak, tidak...

Selesai. Hey, secepat itu? Darah keluar dan diganjal dengan kapas. Aku cukup mati rasa. Namun mungkin jerih payahku ada untungnya. Semoga nggak pernah sakit gigi lagi. Amien. Untuk satu menit berobat aku harus membayar Rp. 100.000,00. Good jobs, mom...