- Entah idenya muncul dari siapa, tiba-tiba saja ada yang mengajakku mancing.
- Banyak terpaksa nggak ikut, dengan alasan yang berbeda-beda: Arif nggak doyan makan ikan, Budi ngakunya males mandi habis Sabtu-Ceria bareng angkatan 2009, Hanif katanya ditinggal padahal mau ikut (waduh bukannya sudah ada yang nanyain "jadi ikut nggak?"
- Perjalanan diawali dengan si Hanin yang ban motornya bocor di garasi.
- Anak-anak bawah pulang ke rumah masing-masing dulu sebelum berangkat, dengan alasan yang aneh-aneh, kemudian kumpul di rumah Agung dan berangkat, tapi di persimpangan pertama, Bayu sudah salah jalan. Untung dia bukan penunjuk arah.

- Setelah melewati jalan yang naik turun dan penuh dengan pemandangan yang hijau dimana-mana, akhirnya sampa juga di Ngrembel Asri.

- Nyari tempat yang pw biar mancingnya berkesan. Tanpa tau yang ini kolam bawal, gurami, mujahir, lele, ataupun hiu, kami asal saja mencari tempat. Tempat no 30-31, wireless signal good (for what, we want to fishing, not go for browsing or chatting!).

- Pesen pancing, 4 saja sudah cukup lah, lagian yang namanya Hanin nggak pengen mancing, takut ketahuan nggak berbakat. Selidik punya selidik aku sedikit hoki dengan pancinganku dan juga tempat aku melempar kail. Pertama langsung dapat, lumayan gede lah, yang lain cuma dapat bayi-bayi ikan. Nisa juga sering dapet ikan. Lho, yang cowok-cowok apa nggak bisa mancing? Hmmm...
- Tararaaaaaaaa... Victor yang sedang melamun tiba-tiba bilang gini, "Ha, HRW?" Kita si nggak lantas percaya begitu saja. Tapi setelah kita amati sesosok wajah yang sedang berjalan bersama entah siapa, kita ketawa. Heran. Takdir. Dia awalnya belum melihat keberadaan kita, sampai akhirnya dia melewati kita-kita dan membalas sapaan kita sambil tertawa-tawa-seperti-biasa. Beliau pun melenggang bersama rombongannya, namun beberapa menit kemudian meluangkan waktunya untuk menanyakan apa yang kita lakukan disana. "Lho ini kok 7-2, tapi kalo malam ya 2-2 lah. Lah ini mancing buat dimakan atau pesen? Lo kok nggak dapat ikan? Nah itu to kalau ada saya langsung ada yang dapat ikan? Nanti ya kalau saya pergi ya pasti nggak ada yang dapat ikannya. Nah ini Ita, ini Victor, Yuda... " dan pokoknya masih banyak lagi kata-kata khasnya beliau. Aduh, semoga saja Pak Hari nggak menyinggung 'pertemuan' ini di kuliah Baja 2 nanti. Bisa mati. Apalagi kalau dari segi yang memalukan. Hey, kita wisata kuliner Pak, sesuai saran Bapak...
- HRW datang dengan jelasnya, dan tiba-tiba saja sudah menghilang entah kemana. Lewat mana dia pulang? Hmmm, hebat.
- Capek memancing, sementara yang dipancing nggak mau nyangkut kail padahal umpannya sudah dihabisin rame-rame di bawah air, akhirnya kita mutusin untuk langsung pesen aja. Bingung juga mau pesen yang 2 kilo1, 1 kilo 2, 1 kilo 3, atau satu kilo 4, untungnya si Nisa yang ngurusin sama Mbak-mbaknya. Jadinya beli 9 ekor, 2.4 kilo.

- Sambil nungguin pesenan datang (katanya 29 menit) kita maen poker. Yes, poker everywhere. Warisan! Warisan, warisan...

- Akhirnya datang juga. Saatnya makan... Aduh kok rasanya manis banget bakarannya? But, it's okey lah. Emm, ada insiden teko juga gara-gara si Yuda. Waduh, jadi kasihan Mas-masnya jadi disuruh ngepel.

- Mancing sudah, makan sudah, saatnya untuk itung-tungan hutang. Hutang sudah impas sana-sini, saatnya ngapaen lagi ya? Outbond? Okeee...

- Bingung juga milih mau ngapaen kayaknya aku nggak berminat membuat jantungku copot. Pikir sana-sini, akhirnya aku pilih naek AVP atau APV entahlah, sama flying fox (aduh aku belum pernah sumpah, aku takut jangan-jangan jantungku copot beneran ntar), si Nisa milih Bunge Trampolin atau apalah namanya, kalau aku wah aku nggak berani yang kayak gitu. Tubuhku nanti kalau diloncat-loncatin sebegitu tingginya bisa-bisa jantung ku mengalami displacement. Atau mencolot keluar lewat mulut. Oh no..

- Si Agung nantangin balapan pake apv. Tapi nggak maksimal soalnya yang warnanya biru suka mati-mati sendiri mesinnya. Pas ngeliat orang maen gituan si rasa-rasanya kok gampang ya, tapi kok kalau di coba sendiri kok kayak mau nabrak-nabrak pembatas terus, pokoknya susah lah. Ya mungkin kurang biasa juga. But, like this lah.

- Flying Fox. The hardest part for me. Mungkin lebih baik kutukarkan saja tiketku dengan uang lagi. Hmmm. Si Nisa berkesempatan pertama. Setelah peralatan siap, dia meluncur, menjerit-jerit, dan sampe hanya dalam hitungan detik saja. Wah, aku nggak siap. Wah, giliranku? Aku nggak siap. Oke, aku siap. Tunggu, tunggu, aku nggak siap. Semua tali-tali dikencengin, soalnya ukuranku harus yang paling kecil. Semua perlengkapan sudah siap, tapi aku belum. Hmm, mas aku nggak jadi saja apa ya. Tapi pengen tahu juga rasanya kayak apa. Oh ya mas, nunggu saya siap ya. Oke, sudah. Akhirnya aku memberanikan diri, meskipun batinku menjerit pilu minta dibatalkan saja. Tapi aku sudah terlanjur diudarakan. Kakiku sudah nggak menapak apa-apa lagi. Tanganku berpegangan erat pada tali. Pertama-tama rasanya enak, pelan-pelan, sampai mas-mas penjaganya melepaskan talinya dan ... Aku nggak bisa berkata-kata atau memikirkan apapun. Aku bahkan nggak bisa menjerit pada awalnya. Aku nggak tahu ekspresiku seperti apa, tapi aku takut banget sumpah. Rasanya sangat berbeda banget sama yang namanya repling. Itu asyik. Kalo yang ini, hmm, semakin lama semakin kencang dan aku sudah pasrah. Jantungku berdetak cepat, dan saat kecepatan full tiba-tiba saja seperti direm. Yup, I'm done.

- Akhirnya kita semua mondar-mandir sebentar dan pulang.

- Nggak kapok untuk mancing lagi, kapok flying fox.
Minggu, 07 Maret 2010
Ngremble, Fishing To Eating
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar