Toothache is one of my big problem.
Well, bagi yang pernah sakit gigi pasti tahu sakitnya seperti apa. Linu saja sudah membuat kita nggak bisa ngapa-ngapain, apalagi sakit gigi bener-bener. Sampai nangis-nangis pasti. Bagi anak-anak yang masih bergigi susu, mungkin bukan masalah. Berlubang masih bisa bertransformasi menjadi baru kembali. Namun bagi orang-orang yang umurnya sudah kepala dua seperti aku pasti hal itu mengganggu banget.
Ayahku antusias banget pas aku bilang pengen cabut gigi. Oh, My God, aku memang pernah cabut gigi tapi itu dulu banget ketika gigi susuku mau tanggal. Waktu itu nggak begitu kerasa sakitnya, soalnya giginya emang dah mau tanggal.
Dan akhirnya aku diantar ayahku ke dokter Lucia Indarwati atau siapalah namanya, yang jelas aku pengen kabur saja membayangkan gigiku akan di "obeng". Membayangkan seseorang menyuntik gusiku saja sudah membuatku ngilu dan memegangi rahangku, padahal aku masih di ruang tunggu dan saat itu nggak ada tanda-tanda keberadaan sang dokter. Ayahku selalu menenangkanku dengan bilang, "nggak akan kerasa apa-apa."
Aku pura-pura tenang dengan membaca-baca majalah jadul yang disediakan di ruang tunggu, tapi pikiranku melayang jauh ke bagaimana nanti bu dokter menggoyang-goyang gigiku dengan obengnya dan mencabutnya tanpa ampun.
Ketika giliranku masuk, aku seperti menyesal datang ke tempat ini. Menyeramkan sekali. Lampu-lampu putih yang mencolok, tempat duduk yang setengah berbaring, seperangkat alat-alat dokter gigi, tempat berkumur, dan yang paling menyeramkan dari semuanya adalah seseorang dengan jas putihnya dan tatapan-tidak-apa-apa-nya.
Sedikit basa-basi nggak membuatku tenang. Tapi aku sudah pasrah, keluar dari sana membuatku terlihat bukan seperti seorang 21 tahun. Dokter Lucia menyuntikkan biusnya di gusiku, tanganku memegang erat pegangan kursi, aku tegang dan mulai mati rasa. Kenapa mati rasanya cuma di sekitar gigiku saja, kenapa nggak sekalian seluruh badanku biar aku nggak melihat proses pencabutan nanti. Oke, oke, beliau lebih tahu, dia kan dokter, dan aku hanyalah seorang mahasiswa yang sering sakit gigi.
Aku disuruh menunggu diluar sampai merasa benar-benar mati rasa. Hmmm, ini adalah suatu perasaan yang nggak enak sekali. Aneh sekali memegang pipimu, dan mendapati bahwa pipimu serasa bukan bagian dari dirimu. Benar-benar nggak mengenakkan sekali. Bagaimana kalau aku kabur sekarang?
Akhirnya aku dipanggil kembali. Dokter Lucia mengetesku apakah memang benar-benar sudah mati rasa. Tunggu dulu! Kenapa harus dibius? Pasti karena rasanya sakit sekali. Hiiiii... Memang sudah nggak terasa apa-apa, tapi tetap saja ngeri sekali melihat seseorang menusuk-nusukan jarumnya ke dalam gusimu. Dan akhirnya beliau memasukkan "obeng"nya dan mulai mengguncang gigiku. Dasyat! Aku berpegangan pada tangan beliau dan dimarahi. Maaf, refleks. Digoyang lagi. Hey, aku melihat gerakan tanganmu dan obengmu itu! Tidak, tidak, tidak...
Selesai. Hey, secepat itu? Darah keluar dan diganjal dengan kapas. Aku cukup mati rasa. Namun mungkin jerih payahku ada untungnya. Semoga nggak pernah sakit gigi lagi. Amien. Untuk satu menit berobat aku harus membayar Rp. 100.000,00. Good jobs, mom...






