Senin, 25 Januari 2010

Tooth Extraction

Toothache is one of my big problem.

Well, bagi yang pernah sakit gigi pasti tahu sakitnya seperti apa. Linu saja sudah membuat kita nggak bisa ngapa-ngapain, apalagi sakit gigi bener-bener. Sampai nangis-nangis pasti. Bagi anak-anak yang masih bergigi susu, mungkin bukan masalah. Berlubang masih bisa bertransformasi menjadi baru kembali. Namun bagi orang-orang yang umurnya sudah kepala dua seperti aku pasti hal itu mengganggu banget.

Ayahku antusias banget pas aku bilang pengen cabut gigi. Oh, My God, aku memang pernah cabut gigi tapi itu dulu banget ketika gigi susuku mau tanggal. Waktu itu nggak begitu kerasa sakitnya, soalnya giginya emang dah mau tanggal.

Dan akhirnya aku diantar ayahku ke dokter Lucia Indarwati atau siapalah namanya, yang jelas aku pengen kabur saja membayangkan gigiku akan di "obeng". Membayangkan seseorang menyuntik gusiku saja sudah membuatku ngilu dan memegangi rahangku, padahal aku masih di ruang tunggu dan saat itu nggak ada tanda-tanda keberadaan sang dokter. Ayahku selalu menenangkanku dengan bilang, "nggak akan kerasa apa-apa."

Aku pura-pura tenang dengan membaca-baca majalah jadul yang disediakan di ruang tunggu, tapi pikiranku melayang jauh ke bagaimana nanti bu dokter menggoyang-goyang gigiku dengan obengnya dan mencabutnya tanpa ampun.

Ketika giliranku masuk, aku seperti menyesal datang ke tempat ini. Menyeramkan sekali. Lampu-lampu putih yang mencolok, tempat duduk yang setengah berbaring, seperangkat alat-alat dokter gigi, tempat berkumur, dan yang paling menyeramkan dari semuanya adalah seseorang dengan jas putihnya dan tatapan-tidak-apa-apa-nya.

Sedikit basa-basi nggak membuatku tenang. Tapi aku sudah pasrah, keluar dari sana membuatku terlihat bukan seperti seorang 21 tahun. Dokter Lucia menyuntikkan biusnya di gusiku, tanganku memegang erat pegangan kursi, aku tegang dan mulai mati rasa. Kenapa mati rasanya cuma di sekitar gigiku saja, kenapa nggak sekalian seluruh badanku biar aku nggak melihat proses pencabutan nanti. Oke, oke, beliau lebih tahu, dia kan dokter, dan aku hanyalah seorang mahasiswa yang sering sakit gigi.

Aku disuruh menunggu diluar sampai merasa benar-benar mati rasa. Hmmm, ini adalah suatu perasaan yang nggak enak sekali. Aneh sekali memegang pipimu, dan mendapati bahwa pipimu serasa bukan bagian dari dirimu. Benar-benar nggak mengenakkan sekali. Bagaimana kalau aku kabur sekarang?

Akhirnya aku dipanggil kembali. Dokter Lucia mengetesku apakah memang benar-benar sudah mati rasa. Tunggu dulu! Kenapa harus dibius? Pasti karena rasanya sakit sekali. Hiiiii... Memang sudah nggak terasa apa-apa, tapi tetap saja ngeri sekali melihat seseorang menusuk-nusukan jarumnya ke dalam gusimu. Dan akhirnya beliau memasukkan "obeng"nya dan mulai mengguncang gigiku. Dasyat! Aku berpegangan pada tangan beliau dan dimarahi. Maaf, refleks. Digoyang lagi. Hey, aku melihat gerakan tanganmu dan obengmu itu! Tidak, tidak, tidak...

Selesai. Hey, secepat itu? Darah keluar dan diganjal dengan kapas. Aku cukup mati rasa. Namun mungkin jerih payahku ada untungnya. Semoga nggak pernah sakit gigi lagi. Amien. Untuk satu menit berobat aku harus membayar Rp. 100.000,00. Good jobs, mom...

Selasa, 05 Januari 2010

Belajar MAB di Tengah Ujian

Anak-anak satu angkatan kemungkinan besar belajar Mass Haul Diagram semua, tapi yang keluar sungguh diluar perkiraan.

Tadi siang ujian Manajemen Alat Berat (MAB) dan kupikir soalnya adalah Mass Haul Diagram. Tapi ternyata Pak Eko Yuli tidak ingin para mahasiswanya mendapat nilai A. Jadi dia mengeluarkan soal yang sangat ribet menurutku.

Aku duduk di bangku nomor 3 tadi di C. 203 dan memulai semuanya dengan buruk. Awalnya kupikir aku membawa penggaris keramatku, namun ternyata penggarisku ketinggalan di bawah bantal. Aku berusaha untuk nggak panik, tapi tetap saja ujian kali ini harus punya penggaris, karena harus menggambar Grafik Free Haul-Over Haul dengan skalatis. Oh My God. Untungnya Ingrith Naibaho tadi mau meluangkan waktunya untuk keluar ruang ujian dan membeli penggaris sehingga aku nitip, maklum penggarisnya sudah nggak ada angkanya lagi.

Dengan PD-nya duduk, meletakkan semua fotokopian materi yang setumpuk, dan mulai menuliskan nama-nim-mata kuliah-semester-hari-tanggal-kode dosen wali-tanda tangan, dan menunggu pengawas membagi soal yang ukuran kertasnya A5, dan setelah ada di tanganku aku terdiam.

Apa ini? Hmmm.. sepertinya aku belum belajar yang seperti ini... Well, ya mungkin aku masih bisa tertolong dengan Open Book kali ini.

Aku dan semuanya mulai membuka-buka materi, memenuhi ruangan dengan suara kertas dibolak-balik, berharap menemukan jawaban dari angkatan atas yang sudah turun-temurun dalam fotokopian usang yang sudah difotokopi terus sampai sudah tak terlihat lagi tulisannya. Lambat laun suara kertas mulai menghilang. Sepertinya anak-anak sudah mulai menemukan apa yang mereka cari. Tunggu-tunggu-tunggu, aku masih belum tahu soal-yang-cuma-satu-itu-mau-diapain. Karena malu, takut ketahuan cuma aku yang masih membolak-balk materi, kuputuskan untuk membaliknya dengan sangat pelan sekali. Ya sebenarnya nggak perlu malu, toh nggak ada yang melihatku seperti itu, semuanya dalam kesibukan masing-masing.

[Sebelum kuselesaikan tulisan ini, kuharap nggak ada satu angkatanku yang membaca ini. Memalukan sekali.]

Well, aku seperti sedang belajar, bukan ujian tadi. Beberapa menit kemudian aku mulai sedikit mengerti tentang apa yang harus aku tulis. Dan kutulis saja apa yang menurutku tepat untuk menjawab solusi dari soal yang diberikan. Aku sampai takut lembar jawabku cuma terisi satu dua halaman saja.

Saat Pak Eko Yuli mengingatkan kami bahwa waktunya tinggal 5 menit, wow, aku terkesima dengan jawabanku. Aku belum menemukan berapa unit tiap peralatannya!

Kebanyakan anak-anak belum selesai mengerjakan soal tadi. Oh, benar-benar ujian Open Book yang gagal. Seperti biasanya.

Minggu, 03 Januari 2010

Tribute To Our Partners

1. Partner, hal pertama yang bisa kulakukan adalah bersyukur. Aku bersyukur karena sekarang ada kamu disini, berjalan bersamaku, mencapai sebuah tujuan bersama-sama... Sekarang aku tak takut lagi menghadapi siapapun, karena aku nggak sendirian..

2. Partner, sekarang tak ada lagi kata aku atau kamu, yang ada hanyalah "kita"..

3. Partner, ketika aku sakit dan nggak bisa memikirkan apapun tentang tugas dan asistensi, kamu datang dengan senyum yang membuatku tenang, lalu kamu bilang, "kamu (baca: namamu) istirahat dulu ya, tugasnya biar aku yang pegang dulu... kamu cepet sembuh ya"

4. Partner, ketika aku punya tugas lain yang berbenturan jadwal, kamu rela mengalah dan mendukungku menyelesaikan tugas-tugasku yang lain...

5. Partner, kamu rela mengantri jam setengah 6 pagi demi mendapatkan kesempatan maju Pak A yang pertama kali, meskipun aku masih tertidur lelap..

6. Partner, kamu rela membolos kuliah demi mengantri Pak A, padahal aku enak-enakan kuliah..

7. Partner, kamu rela meninggalkan makananmu saat kamu sedang makan siang dan kutelpon untuk segera maju Pak B..

8. Partner, kamu rela nggak tidur demi deadline, bahkan saat aku tertidur pun kamu masih begadang..

9. Partner, ketika kita maju dan pekerjaan kita salah, kamu nggak lantas menyalahkanku, meskipun aku tahu, kamu tahu, kita tahu, kalau itu mutlak kesalahanku..

10. Partner, ketika ditanya asisten, kamu nggak lantas membuat jawaban jujur yang memojokkanku.. yang bisa membuatku terlihat bodoh dan kurang berguna..

11. Partner, ketika aku down dan males nglanjutin tugas kita, kamu nggak lantas marah-marah.. tetapi kamu dengan segala kebijaksanaanmu memintaku untuk tenang dan istirahat beberapa hari dulu sampai aku tenang dan bersemangat nglanjutin tugas lagi...

12. Partner, ketika hujan deras disertai badai, kamu dengan tegarnya pergi ke kost teman kita yang berkilo-kilo meter hanya untuk menanyakan masalah seputar tugas kita yang belum beres... padahal aku berlindung di balik selimutku yang tebal...

13. Partner, kamu nggak pernah mengungkit-ungkit masalah fotokopi atau ngeprint ini-pake-uang-siapa-dulu-kalo-pake-duitku-cepet-balikin ya... tetapi kamu segera ingat tanpa kuingatkan kalau kita memakai duitku dulu...

14. Partner, kamu rela bolos kuliah bersamaku untuk mengejar deadline...

15. Partner, kamu tak pernah menyuruhku melakukan sesuatu kalau kamu sendiri bisa melakukannya sendiri.. kebanyakan orang selalu membuang-buang waktu dengan menyuruh-nyuruh orang lain, padahal dia nggak mau disuruh-suruh..

16. Partner, kamu selalu bisa membaca pikiranku, kapan aku males ngerjain tugas, kapan aku semangat... jadi kamu tahu banget kapan ngajak aku ngerjain tugas..

17. Partner, kamu selalu bilang "iya gak papa" saat aku nggak menepati kata-kataku sendiri tentang "batas ngerjain tugas harus sudah sampai sini"

18. Partner, kamu selalu bilang, "ya dilanjutin besok aja ga papah" saat aku sudah ngantuuk banget..

19. Partner, kamu selalu menganggapku sebagai seseorang yang penting, dan bukan hanya sebagai teman untuk maju asisten...

20. Partner, kamu nggak pernah menyalahkanku dengan bilang "ih KAMU gimana sih.. gara-gara KAMU tuh... piye sih.."

21. Partner, saat aku kangen banget keluarga, kamu mengijinkanku pulang barang beberapa hari untuk melepas rindu... dan nggak komentar, "enak aja pulang, selesein dulu tuh tugasmu"

22. Partner, saat aku merasa ini-sudah-mau-dateline/deadline-banget kamu menenangkanku dengan bilang "tenang, kita pasti dapat sp..." dan bukannya bilang "aduh gimana nih, seumur-umur baru sekarang nih aku belom dapat sp H-7 ujian, aduh habisnya kamu sih gini gitu gini gitu.."

23. Partner, untuk keterlambatanku kamu nggak pernah marah... thx ya...


terimakasih, atas semua hal kecil dan besar yang telah kamu lakukan demi kita...

tanpa kamu, aku bukan apa-apa.. meski adanya kamu aku juga masih bukan apa-apa...

tetapi tanpa kamu, aku nggak bisa asistensi sendiri, nggak bisa ngerjain tugas sendiri, dan lain-lain..

maafkan aku, atas semua keegoisanku, kata-kataku yang tak kusadari telah menyinggungmu, atas setiap tetes keringat yang sia-sia karenaku, atas setiap ketidakpedulianku, atas semuanya...

terimakasih...

partner, bangga sekali menyebutmu PARTNER-ku...

Final Exam I Have No Preparation


Tanggal 4 sudah ujian akhir. Aku bingung. Nyatanya aku belum mempersiapkan apapun kecuali satu hal: kartu ujian.

Ya Tuhan, jadwal ujian saja aku nggak punya, ujian sampai tanggal berapa juga aku nggak tahu. Aku merasa nggak berdaya sekarang, kenapa ya aku jadi begini... Harusnya aku itu nggak sebodoh sekarang. Mungkin aku nggak cocok berada di tempat ini.

Tapi toh aku nggak bisa memilih jalan lain juga karena aku sudah melangkah terlalu jauh sekarang. Aku nggak punya pilihan untuk kembali, yang bisa kulakukan hanyalah berjalan terus kedepan.

Aku harus terus berjalan, bagaimanapun pelannya. Aku hanya perlu untuk terus mempercepat langkahku perlahan-lahan sampai saat aku sadar dan menoleh ke belakang, aku sudah melangkah jauh. Dan saat aku menyadari, aku sudah tidak lagi berjalan pelan dan ragu, tapi aku sudah berlari...

Sahabatku pernah berkata bahwa belajar itu bukan tentang kecepatan, tapi tentang percepatan.

Mungkin ini adalah jalan yang salah menurutku, tapi aku nggak perlu berbelok arah dan mencari jalan lain, aku hanya perlu menelusuri jalan itu, karena kita nggak pernah tahu apa yang menanti kita di ujung sana.

Karena semua ini adalah bagian dari rencana Tuhan. Sebuah Master Plan. Kita hanyalah setitik kecil di dunia yang begitu besar ini.

Oke, aku harus mendapatkan nilai bagus untuk ujianku. Bukan agar orang lain menilaiku pandai, atau agar transkripku bebas dari nilai C, tapi lebih dari itu, karena itu adalah kewajiban dan tanggung jawabku karena telah mengambil semua pilihan itu.

Sabtu, 02 Januari 2010

Resolusi 2010

Setiap pergantian semester, pergantian umur, maupun pergantian tahun aku selalu menyempatkan diri untuk membuat suatu resolusi, yang pada kenyataannya jarang sekali terlaksana dan jarang sekali aku usahakan untuk terlaksana. Mungkin--lagi-lagi mungkin--sekarang inilah resolusiku bisa benar-benar kuusahakan untuk terwujud. Umurku sudah 21 tahun, saatnya untuk menjadi dewasa. Tiap manusia pasti bertambah tua, tapi belum tentu menjadi dewasa.

Di penghujung tahun 2009 ini aku ingin merekap kembali apa yang telah aku lakukan.

1. IP terus turun hingga ke tahap di bawah standart 2,25.
Sepertinya IP 2.1 bukanlah sesuatu hal yang bisa dibanggakan.

2. Boros. Nggak pernah berpegang pada prinsip "Belilah apa yang kau butuhkan, bukan apa yang kau inginkan".

3. Nggak merasa bersalah kalau terpaksa ataupun sengaja bolos kuliah. Sepertinya aku sangat menikmati saat-saat menghabiskan waktu di kamar bersama tv-ku yang sangat setia itu. Dia lah teman terbaikku karena dia nggak pernah marah saat semalaman menghiburku dengan acara-acaranya yang kurang berkualitas tapi menghibur, dan ternyata malahan kutinggal tidur.

4. Belum juga bisa masak, padahal itu bagian dari resolusiku beberapa waktu yang lalu. Payah.

Itu sebagian dari hal-hal konyol yang harusnya nggak perlu terjadi. Karena itulah dalam upaya pendewasaan diri, aku ingin sekali menuliskan harapan-harapanku di tahun 2010 dalam sebuah resolusi yang sakral dan akan aku tempel dimana saja aku bisa melihatnya setiap hari: di white board-ku yang berisi tempelan Resolusi Semester 5, Jadwal kuliah yang telah kuhapal diluar kepala, quotes: get out of the box, make agreat change!, dan sebuah fotokopi Surat Puas Baja-1 ku; lalu ku print dan kutempel juga di diaryku yang masih kosong; kutempel juga di cermin; di meja belajar; dan di monitor.

Here we go!

Resolusi 2010:

1. Menaikkan IP ke level 3 koma.
Mungkin bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain rajin kuliah dengan catatan bukan hanya untuk mengisi daftar hadir, tetapi untuk mendapatkan ilmu dari para dosen yang terhormat. Bisa juga dengan belajar setiap hari bersama orang-orang pintar dalam berbagai bidang, jadi harus punya banyak teman. Dan yang lebih penting adalah ber-strategi. Misalnya dengan mempelajari psikologi dosen, soal seperti apa yang sering dikeluarkan dalam ujian.

2. Bisa memasak dan diakui enak.
Sampai sekarang aku nggak bisa memasak. Aku cuma bisa membuat mi rebus, telor dadar, memasak air, nggoreng apapun dengan bumbu praktis yang bisa dibeli di toko, ngrebus sayur tanpa bumbu, bikin omlette, dan nggak ada lagi mungkin. Saatnya aku belajar memasak sama ibuku tercinta yang masakannya top markotop, nggak ada di warteg manapun! Belajar memasak dari internet, tapi jangan sampai orang rumah tau, biar kelihatan wah-ita-jago-masak padahal nyontek. Dan juga trial and error, belajar mengkombinasikan bumbu-bumbu sendiri, sampai menemukan suatu rasa yang enak dilidah sendiri dan juga orang lain. Dan tralala, jadilah the next Farrah Quin..

3. Belajar hemat sehemat hematnya.
Bukan berarti harus makan 2 kali sehari. Tetapi sebagai seorang yang hidup merantau di bumi Tembalang yang tandus, harus lebih selektif memilih sesuatu yang murah tetapi berkualitas, bukan sesuatu yang mahal dan nggak berkualitas. Trus kalau pengen makan enak dan mahal harus menutup pengeluaran di hal lain, misalnya fotokopi di tempat paling murah dengan kertas buram, bolak-balik, perkecil, asal masih bisa dibaca.

4. Menyelesaikan novelku yang pertama, yang belum pernah disentuh untuk diselesaikan di dalam .rtf ku yang kulengkapi dengan password yang sangat susah dihafal tetapi mudah diingat demi keamanan dokumen. Semoga novelku ini bisa diterbitkan atau disetujui untuk terbit tahun 2010 mendatang. Mungkin novel ini nggak matching dengan cita-citaku menjadi dosen, tetapi ya tidak ada salahnya 'menyumbang' sesuatu untuk generasi penerus.

5. Bersosialisasi secara utuh di kost.
Sekarang ini mungkin aku lebih bisa digambarkan sebagai si anak yang kurang bersosialisasi dengan anak-anak satu atap, namun lebih banyak basa-basi yang benar-benar basi karena selalu seperti itu setiap hari. Kurangi berduaan dengan sahabatku-kekasihku dan bla bla bla... Aku rindu punya temen-temen cewek seperti dulu, kemana-mana bareng...

6. Rajin belajar dimanapun kapanpun
Tak perlu didefinisikan secara rinci karena maksudnya sudah sangat jelas disini. Belajar itu bukan berarti membaca buku dan nggak bisa diganggu, belajar itu artinya ya belajar. Belajar. Belajar. ya seperti itulah belajar. Bukan cuma dari buku tapi dari lingkungan di sekitar kita.

Jumat, 01 Januari 2010

New Year's Eve

Berbeda dengan malam tahun baru setahun yang lalu, jika dulu aku menghabiskan malam pergantian tahun dengan nongkrong di gang buntu di suatu jalan entah apa namanya dan entah di depan rumah siapa, tahun ini kami (aku dan anak-anak kurang normal yang suka makan tapi masih kelaparan) menghabiskan acara tutup tahun ini dengan acara yang lebih jelas dan lebih manusiawi: Bakar-apapun-yang-bisa-dibakar!

1. Pra-TLWBH (The Long Way Back Home)

Aku selalu ragu kalau orang-orang seperti Arif dan Hanin bisa punya rencana hang-out tahun baru, apalagi Dika yang selalu idem sama Budi, dan Budi yang juga selalu idem sama Dika. Untunglah pada suatu siang di akhir kuliah tambahan Baskom di minggu tenang, ada orang-orang seperti Victor, Paman, Bayu, Yuda dan tentu saja aku, yang berhasil menyusun "Plan A" dan secepat mungkin membayar dana sumbangan sebesar Rp. 10.000;00 saja dan memprovokasi anak-anak yang lain untuk ikut membayar [asal sudah bayar walaupun nggak bisa datang kan nggak masalah]. Sebagian besar anak kost mau, maklum genre acaranya adalah makan-makan. Dan untungnya semuanya bayar tepat waktu kecuali Indah jadi aku bisa belanja secepatnya.

Transparansi dana sangat jelas sekali disini karena yang megang uangnya kan aku, jadi nggak mungkin disalah-gunakan. Hari kamis siang jam 1-an aku sama Yuda pergi belanja setelah sebelumnya menyerahkan selusin nutrijell ke Naibaho yang punya kompor gas. Karena pasar Banyumanik kurang meyakinkan jadi kita pergi ke Pasar Ungaran, ya jauh nggak papalah sekalian sama ngambil panggangan di rumah Yuda. Sampai di pasar langsung nyari kios sayur-sayur buat nyari jagung. Asal cup aja jagungnya soalnya nggak tahu yang bagus buat dibakar yang seperti apa. Nawar juga malas. Latihan nawarnya kapan-kapan saja lah, paling-paling juga pakai duit bersama. Trus nyari ikan segar, tapi gara-gara dah sore yang jual ikan dikit banget, jadi ya kita asal cup aja. Ya mau seperti apa pasti habis lah ikannya kalau dah kumpul-kumpul. Beli paha ayam juga asal saja yang penting anak-anak senang. Beli bumbu-bumbu juga tadi asal juga.

Baru mau pulang dari pasar, eh hujan deras banget. Petir pula. Mau nongkrong di dalam pasar kayaknya nggak matching ma dandanan yang dah uhuy, jadi ya terpaksa pura-pura muter-muter nyari apa gitu, tapi karena hujannya nggak selesai-selesai ya capek juga muter-muter jadi kita nyari tempat ngetem yang nggak norak. Akhirnya dapat juga tempat yang pas buat mojok (hahaha) yaitu di dekat pintu masuk yang deket wc umum (kita nggak didekat wc sumpah, jauh), di depan kios yang ditinggal pemiliknya, deket sama kios buah yang bikin ngiler (sampe pengen mbelanjain uang untuk beli buah dan dimakan sendiri tapi nggak jadi, ingat dosa). Trus liat orang mabuk yang jalan jatuh terus sampe berselimutkan lumpur dan dijadiin tontonan sama orang-orang pasar. Lumayan lah buat tontonan daripada sepi.

Jam 2-an kita nekat menerobos gerimis buat ngambil panggangan. Dingin banget sumpah. Sampai di rumah Yuda, langsung nyuci ikan sama ayam. Kayaknya sampai amis semua badan kita, tapi biarlah, the show must go on. Kata si bundanya Yuda si kita belinya kemahalan semua (kelihatan bloon, calon teknik sipil dibohongin sama penjual jagung, ikan, ayam). Tapi ya sudahlah, namanya juga orang awam. Lebih gawat lagi kalau Hanin yang belanja, ikan satu kilo 50000 pasti di-oke-in sama dia.

Jam 3 meluncur ke Tembalang lagi biar ikan ma ayamnya cepet-cepet diurus sama Naibaho, bukan Hanin. Kalau dia yang ngurus malah dihabisin dalam keadaan mentah pasti. Perjalanan ke Tembalang sangatlah afu sekali. Jalanan macet berat. Jadi cuma jalan merangkak sampai lewat ke bahu jalan dan hampir masuk ke lubang "awas ada galian kabel" untungnya masih sadar dan langsung belok. Berjam-jam lamanya, apa lagi arah luar kota macetnya ya ampun, nyampe ada sopir yang maen psp saking no-moving nya. Benar-benar perjuangan yang berat. Yang paling parah adalah di sepanjang pintu keluar tol. Heran orang-orang pada pulang kampung semua. Tapi arah ke tembalang lumayan sepi, dah santai-santai jalan kenceng eh dari lajur yang sama ada bis kota, motor, mobil dari arah berlawanan banyak banget. Apa-apaan ini, hey kalian nggak bisa baca garis marka? Diamana ke smart-an kalian? Tapi over it all akhirnya sampai ngesrep juga dan jalanan yang normal. Langsung ke Naibaho ngasih ikan-ayam buat diurus.

Jam 7 kurang alhamdulillah dah pada kumpul semua anak-anak kost. Langsung tancap gas... Here we go. Turun sigarbencah yang seram itu dan setelah ngantri di pom bensin yang antriannya panjangnya ratusan meter, akhirnya sampai juga di tempat Hudy: sebuah rumah baru yang kosong dan hommy.

2. Jagung Bakar Party

Persiapan arang memakan waktu yang lama. Untunglah ada orang-orang berbakat seperti Yuda. Kupas jagung, oles-oles mentega (cuma mentega) tapi pada ketagihan. Hmmm enak banget. Ada yang gosong juga gara-gara lupa dibalik, tapi toh gosong juga pada doyan. Mana jam 10 an ada Ndandong datang membawakan seplastik besar jagung bule yang ompong-ompong dan dia langsung pulang. Ck ck ck. Semakin banyak saja bahan makanannya. Asik. Sambil bakar jagung, ikan ma ayam di oven dulu biar pada bakarnya ntar sebentar doang. Si Victor ngulek sambel yang pedes abis dan rasanya nggak jelas tapi toh habis juga. Nggak lupa juga pinjem magicom buat nanak nasi 1,5 kilo, semoga hanin nggak kurang. Hahaha. Jagung bakar dan puding, nggak klop tapi yummi, enak.

3. Fish & chicken Party

Bakar-bakar ikan ma paha ayam, lalu makan bareng sama nasi yang kurang lembek (menurutku), sama sambal khas Victor. Nyam nyam enak banget. Sambil nonton tv yang chanelnya dipindah-pindah terus. Dipadu dengan lawakan-lawakan konyol khas anak-anak gatel yang bikin sakit perut. Tiap orang yang lewat pada terpesona dengan pesta kebun kita... hohoho




4.Mendem Duren

Budi ma Victor pergi entah kemana nyari durian. Pas pulang dapat 4 buah durian ya ukurannya lumayan gede lah untuk hal yang gratis (didonaturi oleh Victor yang baru digaji HRW)... Arif ma Bayu ngumpet di depan TV nggak tahan ma baunya, kita dengan bahagianya menebarkan bau menyengat durian ke mereka. Durinnya ya lumayan lah, walaupun ada yang ketipu satu: ada belatungnya. Tapi ya lumayan lah, dah mendem duren...

5. The Hill Tamansari
Jam 23.50 langsung cabut ke Meteseh atau apalah namanya, ya bukit yang lumayan tinggi untuk bisa melihat kembang api atau Fireworks. Sudah bisa ditebak: tempat apapun yang bisa digunakan untuk melihat kemabng api pasti ramai dan jika kamu sudah terjebak di dalam kerumunan itu pastikamu akan susah untuk melepaskan diri. Dan benar sekali. Orang-orang tua muda bayi balita ma remaja-remaja tumpah ruah jadi satu. Tapi sayangnya dari The Hill Tamansari ini nggak heboh kembang apinya, nggak kelihatan juga yang bagus banget kembang apinya. Semuanya standart. Kalau masalah kembang api aku lebih suka tahun kemaren, dari Bukit Sari yang penuh sesak itu.

6. Kumpul lagi dan bersih-bersih

Ke tempat Hudy lagi, ngobrol sampai pagi. Sampai jam setengah 3. Setelah semuanya diberesin (ya mungkin juga masih ada yang kelupaan) kita semua ya polling untuk pulang lewat mana. Sigarbencah takut katanya, oke lewat java. Oke Hudy, pamitan, sama berterimakasih ini itu, maaf ini itu, dan lain-lain.

7. TLWBH

Jalanan rame banget dari arah berlawanan. Mungkin itu tandanya orang-orang pada pulang ke rumah masing-masing. Firasatmulai nggak baik saat naek ke gombel. Macet total. Total. Total. Benar-benar nggak bisa lewat. Akhirnya belok lagi, lewat jalan lama depan gombel golf, tapi ternyata lebih parah lagi kemacetannya. Orang-orang pada tidur di pinggir jalan, pada jualan di tengah jalan, pada tidur di trotoar, dan banyak lagi kejadian-kejadian yang nggak setiap hari terjadi. Akhirnya kita memutuskan untuk turun lagi daripada terjebak ditengah kemacetan dan nggak bisa bergerak sama sekali sampai kehabisan oksige, mendingan ngetem di depan Bina Bangsa atau apalah dan melihat orang-orang bodoh yang dengan pedenya memutar ke jalan lama yang mereka kira nggak macet itu. Di trotoar: beralaskan jas hujan sebagai pengganti tikar, Hanin yang mau minta SP ke Pak Hari jam 9 langsung ngorok ditempat. Indah juga tidur sambil duduk. Ya pokoknya sampai subuh kita jadi anak jalanan. Jam 4 jalanan lumayan normal, dan kita tancap gas untuk pulang. Akhirnya bisa sampai kosan juga....

Untuk semuanya; terimakasih, acaranya berkesan...