Selasa, 05 Januari 2010

Belajar MAB di Tengah Ujian

Anak-anak satu angkatan kemungkinan besar belajar Mass Haul Diagram semua, tapi yang keluar sungguh diluar perkiraan.

Tadi siang ujian Manajemen Alat Berat (MAB) dan kupikir soalnya adalah Mass Haul Diagram. Tapi ternyata Pak Eko Yuli tidak ingin para mahasiswanya mendapat nilai A. Jadi dia mengeluarkan soal yang sangat ribet menurutku.

Aku duduk di bangku nomor 3 tadi di C. 203 dan memulai semuanya dengan buruk. Awalnya kupikir aku membawa penggaris keramatku, namun ternyata penggarisku ketinggalan di bawah bantal. Aku berusaha untuk nggak panik, tapi tetap saja ujian kali ini harus punya penggaris, karena harus menggambar Grafik Free Haul-Over Haul dengan skalatis. Oh My God. Untungnya Ingrith Naibaho tadi mau meluangkan waktunya untuk keluar ruang ujian dan membeli penggaris sehingga aku nitip, maklum penggarisnya sudah nggak ada angkanya lagi.

Dengan PD-nya duduk, meletakkan semua fotokopian materi yang setumpuk, dan mulai menuliskan nama-nim-mata kuliah-semester-hari-tanggal-kode dosen wali-tanda tangan, dan menunggu pengawas membagi soal yang ukuran kertasnya A5, dan setelah ada di tanganku aku terdiam.

Apa ini? Hmmm.. sepertinya aku belum belajar yang seperti ini... Well, ya mungkin aku masih bisa tertolong dengan Open Book kali ini.

Aku dan semuanya mulai membuka-buka materi, memenuhi ruangan dengan suara kertas dibolak-balik, berharap menemukan jawaban dari angkatan atas yang sudah turun-temurun dalam fotokopian usang yang sudah difotokopi terus sampai sudah tak terlihat lagi tulisannya. Lambat laun suara kertas mulai menghilang. Sepertinya anak-anak sudah mulai menemukan apa yang mereka cari. Tunggu-tunggu-tunggu, aku masih belum tahu soal-yang-cuma-satu-itu-mau-diapain. Karena malu, takut ketahuan cuma aku yang masih membolak-balk materi, kuputuskan untuk membaliknya dengan sangat pelan sekali. Ya sebenarnya nggak perlu malu, toh nggak ada yang melihatku seperti itu, semuanya dalam kesibukan masing-masing.

[Sebelum kuselesaikan tulisan ini, kuharap nggak ada satu angkatanku yang membaca ini. Memalukan sekali.]

Well, aku seperti sedang belajar, bukan ujian tadi. Beberapa menit kemudian aku mulai sedikit mengerti tentang apa yang harus aku tulis. Dan kutulis saja apa yang menurutku tepat untuk menjawab solusi dari soal yang diberikan. Aku sampai takut lembar jawabku cuma terisi satu dua halaman saja.

Saat Pak Eko Yuli mengingatkan kami bahwa waktunya tinggal 5 menit, wow, aku terkesima dengan jawabanku. Aku belum menemukan berapa unit tiap peralatannya!

Kebanyakan anak-anak belum selesai mengerjakan soal tadi. Oh, benar-benar ujian Open Book yang gagal. Seperti biasanya.

0 komentar:

Posting Komentar