Berbeda dengan malam tahun baru setahun yang lalu, jika dulu aku menghabiskan malam pergantian tahun dengan nongkrong di gang buntu di suatu jalan entah apa namanya dan entah di depan rumah siapa, tahun ini kami (aku dan anak-anak kurang normal yang suka makan tapi masih kelaparan) menghabiskan acara tutup tahun ini dengan acara yang lebih jelas dan lebih manusiawi: Bakar-apapun-yang-bisa-dibakar!
1. Pra-TLWBH (The Long Way Back Home)
Aku selalu ragu kalau orang-orang seperti Arif dan Hanin bisa punya rencana hang-out tahun baru, apalagi Dika yang selalu idem sama Budi, dan Budi yang juga selalu idem sama Dika. Untunglah pada suatu siang di akhir kuliah tambahan Baskom di minggu tenang, ada orang-orang seperti Victor, Paman, Bayu, Yuda dan tentu saja aku, yang berhasil menyusun "Plan A" dan secepat mungkin membayar dana sumbangan sebesar Rp. 10.000;00 saja dan memprovokasi anak-anak yang lain untuk ikut membayar [asal sudah bayar walaupun nggak bisa datang kan nggak masalah]. Sebagian besar anak kost mau, maklum genre acaranya adalah makan-makan. Dan untungnya semuanya bayar tepat waktu kecuali Indah jadi aku bisa belanja secepatnya.
Transparansi dana sangat jelas sekali disini karena yang megang uangnya kan aku, jadi nggak mungkin disalah-gunakan. Hari kamis siang jam 1-an aku sama Yuda pergi belanja setelah sebelumnya menyerahkan selusin nutrijell ke Naibaho yang punya kompor gas. Karena pasar Banyumanik kurang meyakinkan jadi kita pergi ke Pasar Ungaran, ya jauh nggak papalah sekalian sama ngambil panggangan di rumah Yuda. Sampai di pasar langsung nyari kios sayur-sayur buat nyari jagung. Asal cup aja jagungnya soalnya nggak tahu yang bagus buat dibakar yang seperti apa. Nawar juga malas. Latihan nawarnya kapan-kapan saja lah, paling-paling juga pakai duit bersama. Trus nyari ikan segar, tapi gara-gara dah sore yang jual ikan dikit banget, jadi ya kita asal cup aja. Ya mau seperti apa pasti habis lah ikannya kalau dah kumpul-kumpul. Beli paha ayam juga asal saja yang penting anak-anak senang. Beli bumbu-bumbu juga tadi asal juga.
Baru mau pulang dari pasar, eh hujan deras banget. Petir pula. Mau nongkrong di dalam pasar kayaknya nggak matching ma dandanan yang dah uhuy, jadi ya terpaksa pura-pura muter-muter nyari apa gitu, tapi karena hujannya nggak selesai-selesai ya capek juga muter-muter jadi kita nyari tempat ngetem yang nggak norak. Akhirnya dapat juga tempat yang pas buat mojok (hahaha) yaitu di dekat pintu masuk yang deket wc umum (kita nggak didekat wc sumpah, jauh), di depan kios yang ditinggal pemiliknya, deket sama kios buah yang bikin ngiler (sampe pengen mbelanjain uang untuk beli buah dan dimakan sendiri tapi nggak jadi, ingat dosa). Trus liat orang mabuk yang jalan jatuh terus sampe berselimutkan lumpur dan dijadiin tontonan sama orang-orang pasar. Lumayan lah buat tontonan daripada sepi.
Jam 2-an kita nekat menerobos gerimis buat ngambil panggangan. Dingin banget sumpah. Sampai di rumah Yuda, langsung nyuci ikan sama ayam. Kayaknya sampai amis semua badan kita, tapi biarlah, the show must go on. Kata si bundanya Yuda si kita belinya kemahalan semua (kelihatan bloon, calon teknik sipil dibohongin sama penjual jagung, ikan, ayam). Tapi ya sudahlah, namanya juga orang awam. Lebih gawat lagi kalau Hanin yang belanja, ikan satu kilo 50000 pasti di-oke-in sama dia.
Jam 3 meluncur ke Tembalang lagi biar ikan ma ayamnya cepet-cepet diurus sama Naibaho, bukan Hanin. Kalau dia yang ngurus malah dihabisin dalam keadaan mentah pasti. Perjalanan ke Tembalang sangatlah afu sekali. Jalanan macet berat. Jadi cuma jalan merangkak sampai lewat ke bahu jalan dan hampir masuk ke lubang "awas ada galian kabel" untungnya masih sadar dan langsung belok. Berjam-jam lamanya, apa lagi arah luar kota macetnya ya ampun, nyampe ada sopir yang maen psp saking no-moving nya. Benar-benar perjuangan yang berat. Yang paling parah adalah di sepanjang pintu keluar tol. Heran orang-orang pada pulang kampung semua. Tapi arah ke tembalang lumayan sepi, dah santai-santai jalan kenceng eh dari lajur yang sama ada bis kota, motor, mobil dari arah berlawanan banyak banget. Apa-apaan ini, hey kalian nggak bisa baca garis marka? Diamana ke smart-an kalian? Tapi over it all akhirnya sampai ngesrep juga dan jalanan yang normal. Langsung ke Naibaho ngasih ikan-ayam buat diurus.
Jam 7 kurang alhamdulillah dah pada kumpul semua anak-anak kost. Langsung tancap gas... Here we go. Turun sigarbencah yang seram itu dan setelah ngantri di pom bensin yang antriannya panjangnya ratusan meter, akhirnya sampai juga di tempat Hudy: sebuah rumah baru yang kosong dan hommy.
2. Jagung Bakar Party

Persiapan arang memakan waktu yang lama. Untunglah ada orang-orang berbakat seperti Yuda. Kupas jagung, oles-oles mentega (cuma mentega) tapi pada ketagihan. Hmmm enak banget. Ada yang gosong juga gara-gara lupa dibalik, tapi toh gosong juga pada doyan. Mana jam 10 an ada Ndandong datang membawakan seplastik besar jagung bule yang ompong-ompong dan dia langsung pulang. Ck ck ck. Semakin banyak saja bahan makanannya. Asik. Sambil bakar jagung, ikan ma ayam di oven dulu biar pada bakarnya ntar sebentar doang. Si Victor ngulek sambel yang pedes abis dan rasanya nggak jelas tapi toh habis juga. Nggak lupa juga pinjem magicom buat nanak nasi 1,5 kilo, semoga hanin nggak kurang. Hahaha. Jagung bakar dan puding, nggak klop tapi yummi, enak.
3. Fish & chicken Party

Bakar-bakar ikan ma paha ayam, lalu makan bareng sama nasi yang kurang lembek (menurutku), sama sambal khas Victor. Nyam nyam enak banget. Sambil nonton tv yang chanelnya dipindah-pindah terus. Dipadu dengan lawakan-lawakan konyol khas anak-anak gatel yang bikin sakit perut. Tiap orang yang lewat pada terpesona dengan pesta kebun kita... hohoho
4.Mendem Duren
Budi ma Victor pergi entah kemana nyari durian. Pas pulang dapat 4 buah durian ya ukurannya lumayan gede lah untuk hal yang gratis (didonaturi oleh Victor yang baru digaji HRW)... Arif ma Bayu ngumpet di depan TV nggak tahan ma baunya, kita dengan bahagianya menebarkan bau menyengat durian ke mereka. Durinnya ya lumayan lah, walaupun ada yang ketipu satu: ada belatungnya. Tapi ya lumayan lah, dah mendem duren...
5. The Hill Tamansari

Jam 23.50 langsung cabut ke Meteseh atau apalah namanya, ya bukit yang lumayan tinggi untuk bisa melihat kembang api atau Fireworks. Sudah bisa ditebak: tempat apapun yang bisa digunakan untuk melihat kemabng api pasti ramai dan jika kamu sudah terjebak di dalam kerumunan itu pastikamu akan susah untuk melepaskan diri. Dan benar sekali. Orang-orang tua muda bayi balita ma remaja-remaja tumpah ruah jadi satu. Tapi sayangnya dari The Hill Tamansari ini nggak heboh kembang apinya, nggak kelihatan juga yang bagus banget kembang apinya. Semuanya standart. Kalau masalah kembang api aku lebih suka tahun kemaren, dari Bukit Sari yang penuh sesak itu.
6. Kumpul lagi dan bersih-bersih
Ke tempat Hudy lagi, ngobrol sampai pagi. Sampai jam setengah 3. Setelah semuanya diberesin (ya mungkin juga masih ada yang kelupaan) kita semua ya polling untuk pulang lewat mana. Sigarbencah takut katanya, oke lewat java. Oke Hudy, pamitan, sama berterimakasih ini itu, maaf ini itu, dan lain-lain.
7. TLWBH
Jalanan rame banget dari arah berlawanan. Mungkin itu tandanya orang-orang pada pulang ke rumah masing-masing. Firasatmulai nggak baik saat naek ke gombel. Macet total. Total. Total. Benar-benar nggak bisa lewat. Akhirnya belok lagi, lewat jalan lama depan gombel golf, tapi ternyata lebih parah lagi kemacetannya. Orang-orang pada tidur di pinggir jalan, pada jualan di tengah jalan, pada tidur di trotoar, dan banyak lagi kejadian-kejadian yang nggak setiap hari terjadi. Akhirnya kita memutuskan untuk turun lagi daripada terjebak ditengah kemacetan dan nggak bisa bergerak sama sekali sampai kehabisan oksige, mendingan ngetem di depan Bina Bangsa atau apalah dan melihat orang-orang bodoh yang dengan pedenya memutar ke jalan lama yang mereka kira nggak macet itu. Di trotoar: beralaskan jas hujan sebagai pengganti tikar, Hanin yang mau minta SP ke Pak Hari jam 9 langsung ngorok ditempat. Indah juga tidur sambil duduk. Ya pokoknya sampai subuh kita jadi anak jalanan. Jam 4 jalanan lumayan normal, dan kita tancap gas untuk pulang. Akhirnya bisa sampai kosan juga....
Untuk semuanya; terimakasih, acaranya berkesan...




0 komentar:
Posting Komentar