Sabtu, 02 Januari 2010

Resolusi 2010

Setiap pergantian semester, pergantian umur, maupun pergantian tahun aku selalu menyempatkan diri untuk membuat suatu resolusi, yang pada kenyataannya jarang sekali terlaksana dan jarang sekali aku usahakan untuk terlaksana. Mungkin--lagi-lagi mungkin--sekarang inilah resolusiku bisa benar-benar kuusahakan untuk terwujud. Umurku sudah 21 tahun, saatnya untuk menjadi dewasa. Tiap manusia pasti bertambah tua, tapi belum tentu menjadi dewasa.

Di penghujung tahun 2009 ini aku ingin merekap kembali apa yang telah aku lakukan.

1. IP terus turun hingga ke tahap di bawah standart 2,25.
Sepertinya IP 2.1 bukanlah sesuatu hal yang bisa dibanggakan.

2. Boros. Nggak pernah berpegang pada prinsip "Belilah apa yang kau butuhkan, bukan apa yang kau inginkan".

3. Nggak merasa bersalah kalau terpaksa ataupun sengaja bolos kuliah. Sepertinya aku sangat menikmati saat-saat menghabiskan waktu di kamar bersama tv-ku yang sangat setia itu. Dia lah teman terbaikku karena dia nggak pernah marah saat semalaman menghiburku dengan acara-acaranya yang kurang berkualitas tapi menghibur, dan ternyata malahan kutinggal tidur.

4. Belum juga bisa masak, padahal itu bagian dari resolusiku beberapa waktu yang lalu. Payah.

Itu sebagian dari hal-hal konyol yang harusnya nggak perlu terjadi. Karena itulah dalam upaya pendewasaan diri, aku ingin sekali menuliskan harapan-harapanku di tahun 2010 dalam sebuah resolusi yang sakral dan akan aku tempel dimana saja aku bisa melihatnya setiap hari: di white board-ku yang berisi tempelan Resolusi Semester 5, Jadwal kuliah yang telah kuhapal diluar kepala, quotes: get out of the box, make agreat change!, dan sebuah fotokopi Surat Puas Baja-1 ku; lalu ku print dan kutempel juga di diaryku yang masih kosong; kutempel juga di cermin; di meja belajar; dan di monitor.

Here we go!

Resolusi 2010:

1. Menaikkan IP ke level 3 koma.
Mungkin bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain rajin kuliah dengan catatan bukan hanya untuk mengisi daftar hadir, tetapi untuk mendapatkan ilmu dari para dosen yang terhormat. Bisa juga dengan belajar setiap hari bersama orang-orang pintar dalam berbagai bidang, jadi harus punya banyak teman. Dan yang lebih penting adalah ber-strategi. Misalnya dengan mempelajari psikologi dosen, soal seperti apa yang sering dikeluarkan dalam ujian.

2. Bisa memasak dan diakui enak.
Sampai sekarang aku nggak bisa memasak. Aku cuma bisa membuat mi rebus, telor dadar, memasak air, nggoreng apapun dengan bumbu praktis yang bisa dibeli di toko, ngrebus sayur tanpa bumbu, bikin omlette, dan nggak ada lagi mungkin. Saatnya aku belajar memasak sama ibuku tercinta yang masakannya top markotop, nggak ada di warteg manapun! Belajar memasak dari internet, tapi jangan sampai orang rumah tau, biar kelihatan wah-ita-jago-masak padahal nyontek. Dan juga trial and error, belajar mengkombinasikan bumbu-bumbu sendiri, sampai menemukan suatu rasa yang enak dilidah sendiri dan juga orang lain. Dan tralala, jadilah the next Farrah Quin..

3. Belajar hemat sehemat hematnya.
Bukan berarti harus makan 2 kali sehari. Tetapi sebagai seorang yang hidup merantau di bumi Tembalang yang tandus, harus lebih selektif memilih sesuatu yang murah tetapi berkualitas, bukan sesuatu yang mahal dan nggak berkualitas. Trus kalau pengen makan enak dan mahal harus menutup pengeluaran di hal lain, misalnya fotokopi di tempat paling murah dengan kertas buram, bolak-balik, perkecil, asal masih bisa dibaca.

4. Menyelesaikan novelku yang pertama, yang belum pernah disentuh untuk diselesaikan di dalam .rtf ku yang kulengkapi dengan password yang sangat susah dihafal tetapi mudah diingat demi keamanan dokumen. Semoga novelku ini bisa diterbitkan atau disetujui untuk terbit tahun 2010 mendatang. Mungkin novel ini nggak matching dengan cita-citaku menjadi dosen, tetapi ya tidak ada salahnya 'menyumbang' sesuatu untuk generasi penerus.

5. Bersosialisasi secara utuh di kost.
Sekarang ini mungkin aku lebih bisa digambarkan sebagai si anak yang kurang bersosialisasi dengan anak-anak satu atap, namun lebih banyak basa-basi yang benar-benar basi karena selalu seperti itu setiap hari. Kurangi berduaan dengan sahabatku-kekasihku dan bla bla bla... Aku rindu punya temen-temen cewek seperti dulu, kemana-mana bareng...

6. Rajin belajar dimanapun kapanpun
Tak perlu didefinisikan secara rinci karena maksudnya sudah sangat jelas disini. Belajar itu bukan berarti membaca buku dan nggak bisa diganggu, belajar itu artinya ya belajar. Belajar. Belajar. ya seperti itulah belajar. Bukan cuma dari buku tapi dari lingkungan di sekitar kita.

0 komentar:

Posting Komentar